Diversity in Unity!


Kalimat itu yang gw teriakkan di kelas sementara teman-teman gw sudah mendesak gw untuk setuju saja dengan pendapat mereka; karena apabila  gw dan teman gw yang satu lagi, Sony, tidak setuju dengan pendapat mereka, perkuliahan Professor Sulastri ini tidak akan dimulai.

Gw dan Sony bergeming, kami bahkan tidak ingin berdebat. Gw dan Sony hanya mempertahankan pendapat kami; yang menurut kami benar. Bukannya kami belagu atau keras kepala atau tak ingin kuliah dimulai; kami hanya merasa konyol apabila harus mengikuti pendapat orang lain padahal kami befikir sebaliknya.

Dan begitulah, hingga waktu hampir mepet ke akhir perkuliahan, Gw dan Sony tetap bertahan pada apa yang kami yakini benar; bertolak belakang dengan pendapat 20 teman lainnya di kelas.

————————————

Masalah bermula ketika Prof Sulastri mengajukan Pertanyaan : apakah kalian setuju apabila di dalam kelas kita memiliki Peraturan Baku (Peraturan yang sudah dituliskan oleh pihak Universitas) dan Peraturan Normatif?

Sebagian menjawab setuju, dan sebagian lagi menjawab tidak setuju.

Prof kemudian meminta kami saling mempengaruhi satu sama lain; kelompok yang setuju mempengaruhi yang tidak setuju dan sebaliknya.

gw termasuk kelompok yang setuju.

gw setuju dengan dasar pemikiran bahwa di dalam institusi manapun; baik di universitas ataupun di manapun di dunia ini, peraturan tertulis, hanya membatasi pada apa yang tertulis

padahal kita mengetahui bahwa ketika dimanapun kaki dipijak; disana langit dijunjung. Selalu ada peraturan normatif yang tak pernah tertulis pada peraturan baku.

Misalnya…ketika kita ke jawa lalu kita berbicara dengan nada keras seperti orang Sumatera, mungkin banyak orang tak akan simpatik karena merasa kita terlalu kasar. Maka berbicaralah dengan lebih halus, agar bisa ‘ngimbangin’ gaya berbicara orang Jawa.

Demikian juga jika kita bertemu dengan orang yang lebih tua, mau setinggi apapun pangkat jabatan kita, kita harus tetap menunduk apabila lewat di depan mereka (itu yang orang tua saya ajarkan kepada saya). Karena memang kita wajib menghormati orang yang lebih tua.

kemanapun kita, dimanapun kita, -mau tidak mau-suka tidak suka- kita akan selalu bertemu dengan dua macam peraturan. Peraturan tersebut adalah peraturan baku dan Peraturan Normatif.

Salah satu contoh lagi. Di lingkungan RT, tamu diwajibkan lapor 1×24 jam; itu peraturan baku. Peraturan normatif; anda mungkin tidak diperbolehkan menyalakan suara DVD/MP3 player anda terlalu keras karena dapat mengganggu tetangga sekitar, terlebih mengganggu tetangga yang masih memiliki bayi.

Maka, kemanapun kita pasti bertemu dua peraturan tersebut : yg baku & Yg normatif; Jadi buat apa bilang tidak setuju?

Satu persatu teman-teman yang tadinya satu kubu dengan gw ‘terpengaruh’ dengan pendapat teman-teman di kubu ‘tidak setuju’ .

salah satu teman dari kubu ‘tidak setuju’ bahkan bilang kepada gw

“ayolah Nina, itu tidak prinsip. Ikut saja dengan pendapat kami agar kita bisa cepat belajar’

Memang tidak prinsip…tapi saya tidak akan mengucap kata tidak setuju bila dihati saya setuju. Makanya saya bilang kepada professor, biarlah Diversity in Unity, wong kalo rapat di forum aja 1/4 suara boleh tidak sependapat kog, dalam Islam juga mengatakan bagiku agamaku dan bagimu agamamu?

gw akhirnya menyatakan deadlock.

—————————————

Prof pada akhirnya memulai perkuliahan dengan ‘meminjam’ pendapat kami (gue dan sony) untuk masuk ke kubu yang tidak setuju. Beliau mengatakan beliau sengaja menciptakan konflik agar ia dapat melakukan Personal Mapping dari masing-masing kami

And something went wrong on my Neokorteks. I didnt understand.

Sang Prof bahkan tidak menjelaskan mana yang ia suka: yang menyatakan setuju atau yang menyatakan tidak setuju.

Di akhir perkuliahan, gw tetap tidak mendapat penjelasan mengenai Personal Mapping yg didahului konflik tersebut (atau emang gw nya aja yg bego kali ya?)

Hanya berbagai kesan lalu tertanam di hati gw;

Bahwa seringkali kita sulit untuk mempertahankan apa yang kita anggap benar, terlebih apabila dampaknya kita dikucilkan masyarakat sekitar.

Masih ingat Nelson Mandela dipenjara karena benci dengan Rasisme; sama seperti halnya Marthin Luther King Jr?

Aung san su kyi juga dipenjara karena mempertahankan apa yang ia yakini.

Nabi Muhammad dilempar batu, dicaci maki karena ia juga meyakini Agamanya benar.

Meskipun kasus gw di kelas itu ga ada apa-apanya dibandingkan beliau beliau yg diatas, gw mencoba mengambil benang merahnya:

Jangan ikut ikutan pendapat orang lain bila kita tidak mengerti apa sesungguhnya yg diyakininya.

Jangan bilang setuju padahal anda tidak setuju,

Jangan melakukan hal hal hanya untuk menyenangkan hati orang lain,

Jangan mengubah pendirian hanya karena merasa kita tidak seragam,

Karena bagaimanapun perbedaan itu Rahmat, harus kita hargai bagaimanapun bentuknya, bukan malah menyikapinya dengan naik darah.

Tetaplah Diversity in Unity, Tetaplah ‘memaklumi’ 1/4 suara forum yg tak sependapat, tetaplah bagimu agamamu dan bagiku agamaku, and please still feel good when your stubborness believes what you believe in.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s