Makan Gajah

Sumpah benerrr, bikin tesis itu bener bener kayag makan gajah.

Apalagi saya, yang sejatinya S1 dari engineering, sekarang ngerjain tesis S2 Finance yang kagak ada nyangkutnya sama sekali dengan skripsi saya dulu.

even secuil.

Jadi iri sama temen-temen yang s1nya dari ekonomi terus bilang

“kayagnya gue bisa nih nerusin skripsi gue, terus tinggal tambahin aja variabelnya dikit terus selesai deh”

errrr

damn -__-

sedangkan saya harus kayag makan gajah, menggaruk garuk tanah, learning from a scratch, mencoba mengerti mulai dari dasar teori, aplikasi statistik sampe berbagai software yang ga segampang facebook ngertiinnya, belum lagi berbagai macam metode penulisan lainnya yang sumpah mati ga pernah saya temuin ketika saya menulis skripsi di teknik.

bukannya skripsi teknik lebih gampang sik, lebih susah malah. cuma yaaa dengan kondisi macam ini, dimana waktu untuk belajar sangat sedikit – bahkan waktu untuk diri sendiri dan hang out dengan teman-teman sudah tidak ada lagi- ketemu makhluk aneh-aneh pas ngerjain tesis itu yang ada jadi bikin stress.

But all was running well actually,buktinya tesis saya sudah hampir selesai, sudah seminar proposal juga dengan sukses, Alhamdulillah dosen sepertinya kasihan ngeliat saya dan mikir mikir kalo mau membantai anak manusia kurus dengan mata cekung karena kurang tidur..

ga sia sia juga karena saya dengan patuhnya udah ngikutin maunya dosen pembimbing yang dengan sukses membuat saya mengganti judul beberapa kali dan salah satunya itu ganti judul ketika saya udah di bab 3.

jadi mohon maaaaaaaf para pembaca, saya akhirnya curcol di blog secara ini udah bulan September, saya udah berkutat dari bulan Februari (oke silakan bilang APAA? kog lama bangett?) dan Dian Sastro udah wisuda itu rasanya pingin tarik tarik rambut sambil teriak ‘gilak, giliran gua kapan ini wisudanyaaaa???’

But hey, saya menguatkan diri aja. It’s like talking to myself  ‘just one step more, nina… semangatlaah’ dan bukan diri saya namanya kalau tidak bisa mengatasi hal-hal sulit, hahah. I was made for it,  but Allah always gave me strength so i am not break down on my knees and crying out loud. Alhamdulillah.

And i know Allah will help me again this time

Like Allah always do with me along the way.,…

 

 

Arti Sukses itu..

Pak Heru adalah seorang mantan petinggi salah satu bank syariah swasta di Palembang.

beliau menjadi pegawai selama beberapa belas tahun, lalu mengubah haluan hidup.

kurang dari lima tahun yang lalu beliau resign dari pekerjaannya, dan memutuskan menjadi pengusaha

“teman-teman banyak yang datang menanyakan dan meminta saya bercerita panjang lebar mengenai keputusan bodoh saya tersebut”

“tapi saya tidak merasa keputusan tersebut bodoh” ujarnya

Sekarang beliau memiliki 14 cabang perusahaan pembiayaan yang tersebar di beberapa kota.

Lalu

Setelah ia merasakan menjadi pegawai,

lalu menjadi seorang pengusaha yang berhasil,

Apakah ia telah merasa sukses?

“Bagi saya, berbeda. Waktu jadi pegawai penghasilan saya memang terbatas; namun saya mendapatkan banyak fasilitas, orang-orang menghormati saya karena adalah seorang petinggi bank, saya diundang di banyak acara..

ketika sekarang jadi pengusaha, saya bebas mengatur waktu saya, tapi tantangan bertambah, hutang bertambah, dan yang pasti tanggung jawab juga bertambah. sekarang saya memiliki karyawan di 14 cabang yang harus saya pikirkan kelangsungan hidupnya.

apakah saya merasa kaya?

tidak juga. uang saya memang banyak, tapi ingat saya juga punya bisnis yang uangnya harus berputar, karyawan yang harus digaji..

apakah saya merasa sukses?

Setelah merasakan keduanya (Pegawai dan Pengusaha) sekarang saya mendefinisikan sukses dengan cara yang berbeda.

Sukses itu ternyata bukanlah kaya; atau banyak harta; karena kaya tidak menjamin hidup anda bahagia..

Sukses juga bukanlah punya perusahaan yang banyak; karena banyak perusahaan yang dibangun dengan susah payah, ketika sang pioneer telah wafat dan generasi kedua tidak tertarik untuk meneruskan perusahaan tersebut, toh akhirnya perusahaan tersebut kita berikan ke orang lain..

Sukses itu menurut saya, adalah seperti Uje.. (Ustadz (alm) Jeffry Al Buchori)

ketika wafat banyak mengantar.. ketika wafat Indonesia turut berkabung.. disana terlihat apakah semasa hidup kita telah memberi manfaat bagi orang banyak ataukah tidak,

dan menurut saya hidup yang sukses adalah seperti hidup Uje, ia telah memberi manfaat bagi banyak orang, sehingga ketika beliau wafat banyak sekali orang yang mengantarkan beliau sebagai bentuk perpisahan dan juga penghargaan..

————————-
Bp. Heru sebagai guest lecturer,
MM Unsri,
Kelas Weekend 34

Diversity in Unity!

Kalimat itu yang gw teriakkan di kelas sementara teman-teman gw sudah mendesak gw untuk setuju saja dengan pendapat mereka; karena apabila  gw dan teman gw yang satu lagi, Sony, tidak setuju dengan pendapat mereka, perkuliahan Professor Sulastri ini tidak akan dimulai.

Gw dan Sony bergeming, kami bahkan tidak ingin berdebat. Gw dan Sony hanya mempertahankan pendapat kami; yang menurut kami benar. Bukannya kami belagu atau keras kepala atau tak ingin kuliah dimulai; kami hanya merasa konyol apabila harus mengikuti pendapat orang lain padahal kami befikir sebaliknya.

Dan begitulah, hingga waktu hampir mepet ke akhir perkuliahan, Gw dan Sony tetap bertahan pada apa yang kami yakini benar; bertolak belakang dengan pendapat 20 teman lainnya di kelas.

————————————

Masalah bermula ketika Prof Sulastri mengajukan Pertanyaan : apakah kalian setuju apabila di dalam kelas kita memiliki Peraturan Baku (Peraturan yang sudah dituliskan oleh pihak Universitas) dan Peraturan Normatif?

Sebagian menjawab setuju, dan sebagian lagi menjawab tidak setuju.

Prof kemudian meminta kami saling mempengaruhi satu sama lain; kelompok yang setuju mempengaruhi yang tidak setuju dan sebaliknya.

gw termasuk kelompok yang setuju.

gw setuju dengan dasar pemikiran bahwa di dalam institusi manapun; baik di universitas ataupun di manapun di dunia ini, peraturan tertulis, hanya membatasi pada apa yang tertulis

padahal kita mengetahui bahwa ketika dimanapun kaki dipijak; disana langit dijunjung. Selalu ada peraturan normatif yang tak pernah tertulis pada peraturan baku.

Misalnya…ketika kita ke jawa lalu kita berbicara dengan nada keras seperti orang Sumatera, mungkin banyak orang tak akan simpatik karena merasa kita terlalu kasar. Maka berbicaralah dengan lebih halus, agar bisa ‘ngimbangin’ gaya berbicara orang Jawa.

Demikian juga jika kita bertemu dengan orang yang lebih tua, mau setinggi apapun pangkat jabatan kita, kita harus tetap menunduk apabila lewat di depan mereka (itu yang orang tua saya ajarkan kepada saya). Karena memang kita wajib menghormati orang yang lebih tua.

kemanapun kita, dimanapun kita, -mau tidak mau-suka tidak suka- kita akan selalu bertemu dengan dua macam peraturan. Peraturan tersebut adalah peraturan baku dan Peraturan Normatif.

Salah satu contoh lagi. Di lingkungan RT, tamu diwajibkan lapor 1×24 jam; itu peraturan baku. Peraturan normatif; anda mungkin tidak diperbolehkan menyalakan suara DVD/MP3 player anda terlalu keras karena dapat mengganggu tetangga sekitar, terlebih mengganggu tetangga yang masih memiliki bayi.

Maka, kemanapun kita pasti bertemu dua peraturan tersebut : yg baku & Yg normatif; Jadi buat apa bilang tidak setuju?

Satu persatu teman-teman yang tadinya satu kubu dengan gw ‘terpengaruh’ dengan pendapat teman-teman di kubu ‘tidak setuju’ .

salah satu teman dari kubu ‘tidak setuju’ bahkan bilang kepada gw

“ayolah Nina, itu tidak prinsip. Ikut saja dengan pendapat kami agar kita bisa cepat belajar’

Memang tidak prinsip…tapi saya tidak akan mengucap kata tidak setuju bila dihati saya setuju. Makanya saya bilang kepada professor, biarlah Diversity in Unity, wong kalo rapat di forum aja 1/4 suara boleh tidak sependapat kog, dalam Islam juga mengatakan bagiku agamaku dan bagimu agamamu?

gw akhirnya menyatakan deadlock.

—————————————

Prof pada akhirnya memulai perkuliahan dengan ‘meminjam’ pendapat kami (gue dan sony) untuk masuk ke kubu yang tidak setuju. Beliau mengatakan beliau sengaja menciptakan konflik agar ia dapat melakukan Personal Mapping dari masing-masing kami

And something went wrong on my Neokorteks. I didnt understand.

Sang Prof bahkan tidak menjelaskan mana yang ia suka: yang menyatakan setuju atau yang menyatakan tidak setuju.

Di akhir perkuliahan, gw tetap tidak mendapat penjelasan mengenai Personal Mapping yg didahului konflik tersebut (atau emang gw nya aja yg bego kali ya?)

Hanya berbagai kesan lalu tertanam di hati gw;

Bahwa seringkali kita sulit untuk mempertahankan apa yang kita anggap benar, terlebih apabila dampaknya kita dikucilkan masyarakat sekitar.

Masih ingat Nelson Mandela dipenjara karena benci dengan Rasisme; sama seperti halnya Marthin Luther King Jr?

Aung san su kyi juga dipenjara karena mempertahankan apa yang ia yakini.

Nabi Muhammad dilempar batu, dicaci maki karena ia juga meyakini Agamanya benar.

Meskipun kasus gw di kelas itu ga ada apa-apanya dibandingkan beliau beliau yg diatas, gw mencoba mengambil benang merahnya:

Jangan ikut ikutan pendapat orang lain bila kita tidak mengerti apa sesungguhnya yg diyakininya.

Jangan bilang setuju padahal anda tidak setuju,

Jangan melakukan hal hal hanya untuk menyenangkan hati orang lain,

Jangan mengubah pendirian hanya karena merasa kita tidak seragam,

Karena bagaimanapun perbedaan itu Rahmat, harus kita hargai bagaimanapun bentuknya, bukan malah menyikapinya dengan naik darah.

Tetaplah Diversity in Unity, Tetaplah ‘memaklumi’ 1/4 suara forum yg tak sependapat, tetaplah bagimu agamamu dan bagiku agamaku, and please still feel good when your stubborness believes what you believe in.

 

Ketika si Sulung mempunyai Adik..

6ed8eab95441b70921e24dcfe1e2f27f

Ada kekhawatiran muncul ketika gw mengandung anak kedua. Kekhawatiran tersebut gw rasa wajar dan juga dirasakan oleh semua orang tua yang akan memiliki anak kedua. The biggest issues came when you gonna have the second child is that, how about the oldest one? How’s his reaction about this?

Ketika hamil..

Rafin was 4,5 yo when I pregnant the second child. Gw rasa pada umur segitu Rafin sudah cukup besar untuk mengerti bahwa ada adik di dalam perut bunda. Benar?

Benaaar.. kalau lagi inget.

Kalau lagi ga inget tetap aja nangis2 minta digendong sama bunda atau ngajak main timpa-timpaan ketika bunda sedang tidur-tiduran. Which is that is not okay to do when there’s a tiny baby in mommy’s womb. Jadi gw berusaha memberi penjelasan sebisanya bahwa ‘ada adik di dalam perut bunda’ atau kalau ga mau dibilangin juga paling gw yang menghindar sebisanya.

Dan hal ini terus berjalan selama sembilan bulan, dengan cara yang menyenangkan.

Rafin juga terlihat senang akan punya adik, terkadang juga sering membayangkan ‘Nanti Rafin main apa sama adek ya Bunda? Maen masak-masakan boleh?’ dan gw bilang main apa saja boleh asal tidak membahayakan Rafin dan adik.

‘termasuk main masak-masakan dan boneka-bonekaan?’

Ya, termasuk main masak-masakan dan boneka-bonekaan.
(note : gw termasuk orang tua yang tidak parno kalau laki-laki main permainan anak perempuan dan sebaliknya. I think it’s important for him to know many things in life without limitation from his parents). Beside, many famous chefs in this world is a man; and it doesn’t turns them into a woman.

Ketika adik lahir ke dunia…

Entah mana yang lebih dominan yang bisa gw lihat dari Rafin. Di satu sisi terlihat senang, (sangat senang malah) namun di satu sisi perasaan cemburunya juga mendominasi. Misalnya saja.. Rafin menangis ketika gw menyusui adiknya.. karena ia juga ingin menyusu dari gw…Suatu hal yang tidak dilakukan Rafin sejak ia berumur enam bulan!

Kemudian ketika di rumah sakit ia ingin tidur di samping bunda, padahal bunda habis operasi dan anak kecil tidak diperbolehkan dekat-dekat bunda dulu sampai bunda pulih.

Kemudian ia sibuk mencari perhatian dari semua orang. Mulai dari Abie, nenek, dan semua orang yang datang ke rumah sakit untuk menjenguk. Dan kami sempat kewalahan menjaga Rafin dengan sikapnya yang Over.

Kalau keinginannya ga diturutin dia akan nangis kenceng-kenceng sampai dokter yang menangani gue menyarankan supaya Rafin ‘dirumahkan’ dulu untuk sementara waktu.

Abie malah berinisiatif membelikan mainan yang bagus dan bilang ke Rafin kalau itu kado dari adiknya yang baru lahir, hehe

Sampai disini apakah Rafin redam?

Ngarepnya sih iya…

Namun Ketika sampai di rumah..

malah lebih repot lagi. Rafin selalu ‘gatel’ kalau ngeliat adiknya tidur di dalam box.

Seringkali ketika adik tidur di dalam box di kamar, dia menyelinap masuk.

Terus narik bantal adeknya sampe adeknya tidur ga pake bantal.

Selimut adek? Yaaa… itu juga sering ditarik-tarik sampe adek tidur ga pake selimut di kamar ber AC.

Masuk ke dalam box adek ketika tidur? Itu juga pernah

Dan yang paling mengkhawatirkan, dia pernah menimpa muka adeknya pake bantal sehingga muka adeknya ketutup dan susah bernafas.

Whoaa.. ga salah rasanya kalau gw selalu tidak tenang kalau meninggalkan rafin berdua saja dengan adiknya. Seringkali malah gw sampai harus mengunci pintu kamar ketika gw hendak ke wc, hal ini supaya Rafin ga menyelinap masuk kamar ketika adiknya sedang tidur.

Karena minta perhatian lebih, tingkah Rafin menjadi sangat menjengkelkan dan ini kerap membuat sebal (hampir) semua orang. Gw bilang hampir semua, karena kalau ibu gw sih sabar bgt menghadapi Rafin (pengalaman punya anak 4 itu ngaruh banget ya) haha.

Gw sih pada akhirnya sering bgt marah-marah ke Rafin.
Suatu hari, gw pernah MARAAAHHH BESAARR sama Rafin gara-gara ulahnya yang mengganggu si adik. Dan gw inget Rafin sampai nangis sesunggukan karena gw marahin itu.

Tapi setelah marah, gw kemudian sadar bahwa mungkin disaat-saat seperti inilah titik balik dimana sikap gw – sebagai orang tua – bisa mempengaruhi kepribadian anak untuk seumur hidupnya.

Mungkin disaat-saat seperti inilah gw membentuk kepribadian Rafin untuk seterusnya…apakah Rafin tetap menjadi anak baik dan penurut (karena merasa disayang sama orang tuanya) atau malah jadi anak pembangkang (karena merasa orang tuanya ga sayang sama dia karena dia kalah saingan sama adeknya)

And it clicks me. I shouldn’t fail on this.

Gw berusaha mengubah sikap gw. Rafin hanya cemburu, dan merasa insecure terhadap kehadiran adiknya, jadi gw ga seharusnya marah-marah terus ke dia kan?

Gw lalu berusaha lebih sabar. Kalau Rafin gangguin adeknya, gw lebih memilih menjelaskan daripada memarahi.

Gw juga menyisihkan banyak waktu buat Rafin yang selama ini tersita untuk mengurusi adiknya. Sementara adeknya dipegang sama pengasuh, gw sama Rafin akan membaca buku, cerita tentang kejadian hari itu disekolah, atau main masak-masakan atau main kemah-kemahan bersama.

Gw juga lebih sering mengajak Rafin membayangkan “Nanti kalau Adek digangguin sama orang lain, Rafin marah gak?” dsb dsb, atau berjalan-jalan sore sama adik di dorongan dan Rafin jalan disampingnya, supaya sense of belonging dia dengan adiknya tumbuh dan mengenyahkan anggapan kalau adiknya adalah pesaingnya.

Gw kemudian akan dengan sengaja minta tolong Rafin untuk mengambilkan pampers, atau kebutuhan adek yang lain supaya ia merasa dilibatkan sebagai kakak.

Gw menjadi lebih sering memeluk dia kapan saja.

Gw jadi lebih sering pergi berdua dan sesekali ngemall sama Rafin berdua saja.. hoho

Dan lebih menghormati dia sebagai big brother.

Because He is a Big Brother now.
And I want him grown up not only to be a brave, clever, handsome big brother; but also to be a loving brother who has a good heart.

Alhamdulillah sekarang keadaan sudah jauh jauh lebih baik. Rafin sudah mengerti banget kalau dia sekarang adalah seorang Abang, dan dia mulai terlihat sayang sama adiknya. malah kalau kemana-mana sekarang nanyanya : Adik lagi apa ya Bunda?
terus kalau adiknya nangis dia juga repot nyariin gue atau pengasuhnya, dan yang paling so sweet itu adalah kalau pagi tiap bangun tidur dan dia liat adiknya sudah ga ada di kasur, dia pasti nanya : Adik mana Bunda?

And that’s could make your heart feel warm, even in the coolest winter ever..(^_^)v

Rafin dan Raifa
Rafin dan Raifa

Bukan karena wifinya…

Happy new year everyone! maaf karena sudah lamaaaaa bgt ga update blog ini. Mungkin karena pengaruh sudah punya dua anak (pembenaran), dan jujurnya sih karena gw juga mengalami sedikit writer’s block. Many times, I have so many things to write about, but lost clue from where i have to start (pembenaran lagi).

But here’s my story to open this year.

Dua minggu sebelum tahun baru kemarin, gw sempat misuh2 ga karuan. Gara-garanya modem Huawei gw yang selama ini senantiasa menemani gw surfing di dunia maya, terlihat seperti gak punya nyawa. Gw ngerasa terakhir surfing enak itu ketika medio November gw ke bogor. (udah lama bgt ya?). setelah itu ga inget lagi kapan gw bisa surfing dengan smooth.

(Mantan ) Modem andelan
(Mantan ) Modem andelan

Jadilah, gw mencoba online dari beberapa tempat: di kantor, rumah, rumah orang tua gw, (ya kali aja jaringan Tri pilih2 tempat) tapi jaringan TETAP ga seperti sedia kala.

Terus gw juga sudah mencoba ganti kartu ke XL, gw beli 70 ribu, tapi pas gw pasang ke modem, beberapa menit nyambung ke internet, terus putus-pulsanya langsung bablas. XLnya yang nipu atau orang yang jualannya yang nipu ga tau deh gw. Kayagnya modem gw rusak nih.

Gw mencoba mencari solusi, tapi males beli modem lagi. Akhirnya gw mikir kenapa gw ga pake wifi aja… gw jadiin android gw sebagai router, toh di netbook gw udah ada wifi adapternya kan?

Gw nyalainlah router android, dan gw idupin wifi adapter di netbook. Netbook gw mencari-cari router android gw, tapi ketika ke detect, jaringannya ga bisa nyambung. Gw coba berkali-kali tetap aja ga nyambung2.

frustasi, gw cek lah ke trouble shooting network gw, dan yang keluar adalah “Problem with wireless adapter or access point”

what? wifi adapternya rusaaaakkkk???? Walaaaa…

Mencoba tabah, gw akhirnya menelefon salah satu teman sepanjang masa gw dan minta pendapat dia bagusnya gimana, secara dia memang ahli di hardware komputer. Sarannya sik, karena garansi netbook gw sudah habis dalam artian gw ga bisa mintak ganti itu adapter wifi yang tertanam di dalamnya, teman gw itu akhirnya menyarankan beli wifi adapter yg portabel saja.

WIfi adapter portable seputih salju
WIfi adapter portable seputih salju

Jadilah gw beli wifi adapter yang bisa dicolok via usb sesuai saran teman gw tersebut. Gw beli dengan harga seratus ribu.

Hari pertama bersama adapter portable sangat menyenangkan, gw pikir my problem is solved, right?

Wrong.

Besoknya penyakit wifi adapter portable ini kog sama dengan yang dibawaan laptop. Dapet jaringan routernya… tapi connectnya lamaaaa dan ujung2nya putus.

gw. merasa. putus. asa.
kalo boleh nangis, gw nangis deh, hati pegel bgt rasanya… huhuhu

Tapi masak gw nangis cuma gara2 ga bisa ngenet? nerd bgt gw. (emang)

——————

Suatu hari di sabtu pagi setelah insiden tersebut, gw ngebuka netbook untuk mindahin lagu Titanium yang ada di BB ke netbook gw.

Dan terjadilah, hal yang super duper menyebalkan. Tiba2 data di BB berubah semua jadi 2kb, 2kb, 2kb,.. si Titanium yang mo dipindahin juga jadi 2kb, 2kb,…. walaaa walaaaa…

Gw berfikir keras…lalu menyimpulkan… jangan-jangan ini….. virus?

Seolah membaca isi kepala gw, si avira di netbok kemudian mulai berbunyi tat tit tat tit, melaporkan bahwa si netbook sudah terinveksi banyak virus yang nyebelin bgttttttt ###!!!

o mai gat.

modem rusak. wifi rusak. wifi portable rusak. skrg netbook gw virusaaaan???

ketika gw lagi pusing2 gitu, sang hubby ngomong dengan kalemnya
“eh bun, jangan2 itu wifi adapter rusak karena virus kali.. bukan karena rusak beneran…”

masuk di akal. lah gw mikir pinter bgt itu si virus bisa ngerusak wifi adapter?

Tapi gw mikir lagi ya namanya juga virus, ya harus lebih pinter dari antivirus dan program komputer lah ya kalau mereka ingin menjadi virus yang berdigdaya (##??!!) … jadi kesimpulannya si virus pastilah pintar.. (doeeng)

AAAAnnnnddd….as the last effort, gw lalu dengan pasrah menyerahkan sepenuhnya netbook gw ke adek gw buat DIINSTAL ULANG.

terserah lah ya udah capeeekkk gw.. gw bahkan ga mau usaha ngebersihiin tuh netbook pake avira, mending langsung install ulang aja semuanya! (mewek)

Dan bener aja, setelah diinstall ulang eberiting back to normal. Eberiting is works well. Jadi apa guna gw beli kartu perdana XL sampe beli wifi adapter portable? Saus Tartar!

Mana Virusnya? Sini gw tembak!
Mana Virusnya? Sini gw tembak!

Huuuaaaaa…

ya udahlahya… belajar ikhlass.. daripada terus-terusan mendongkol, sekarang dinikmati aja surfing lancar kembali seperti sedia kala..

Trus apakabar wifi adapter portable yang gw beli seratus ribu?

yaaa..gw simpen sajalah sebagai memorabilia ditipu virus yang jelas jelas lebih pinter dari gw. bleh.

Orang Tua, HP, dan Iklan Oreo

hqdefault

gambar diambil dari Youtube

‘Papa.. pilih henpon atau oreo?’
ujar gadis kecil cantik mungil berambut pirang yang sedang makan oreo di depan segelas susu.

‘henpon dong..’
ujar sang papa

‘bisa diputer ga?’ tanya sang gadis kecil sambil memutar oreonya

sang papa pun memutar henponnya

‘bisa dijilat ga?’ tanya sang gadis kecil lagi sambil menjilat oreonya

terlihat ragu-ragu, namun sang papa tetap memaksakan diri untuk menjilat henponnya.

‘bisa dicelupin ga?’ dan sang gadis kecil membenamkan oreonya kedalam susu hingga tercelup setengahnya

sang papa berfikir ragu-ragu….antara tidak ingin melakukan, tapi takut mengecewakan..

akhirnya sang papa tertawa dan si gadis cilik juga

‘kamu menang deh’
ujar sang papa sambil tersenyum lebar.

dan sang gadis cilik tersenyum puas.
——————————————-

Pertama kali saya melihat iklan ini, saya tertawa.

gadis kecil yang cerdas, ia mungkin kesal melihat sang papa hanya berkutat dengan henponnya, sehingga tidak menggubris dirinya.

entah saya berlebihan ataupun tidak, iklan tersebut selain lucu, juga tersirat maksud sarkasmenya.

dan sarkasme tersebut ditujukan kepada kita, para orang tua.

Nowadays, orang tua yang sudah akrab dengan social media, ada yang lebih tahu kegiatan teman-teman di facebook ketimbang kegiatan anak-anak mereka di sekolah.
siapa jalan kemana, siapa sedang menggalaukan apa, siapa yang sedang berulang tahun, Padahal teman-teman tersebut, apa dan bagaimana mereka bukanlah sesuatu yang harus kita urus.

sedangkan anak yang seharusnya kita urus, bisa jadi tak kita ketahui isi kepalanya. bisa jadi tak kita ketahui apa-apa yang dialaminya dalam satu hari itu.

atau begini

orang tua yang terlalu sibuk berdiskusi dengan komunitas sehobi atau seprofesi di facebook.

karena tak bisa facebookan di kantor, ngobrol ngalor ngidul mengenai hobi ini lalu to be continue di rumah. haha hihi ini itu tulis comment dan wall sana sini tau-tau bablas dua jam dan ketika kita ingin mengobrol dengan anak-istri-suami, mereka sudah tidur duluan.

tapi saya juga tidak serta merta mengkambinghitamkan facebook saja; segala jenis social media, mulai dari twitter-path-bbm-google-pinterest-instagram-wordpress-line-wechat- bisa berkonspirasisasi untuk mengalihkan dunia para orang tua sehingga globalisasi dan moralisasi anak-anak kita lalai kita pantau (iya saya mulai terdengar seperti Vicky Prasetyo ya =D)

jadi begini

saya (sedikit banyak) termasuk dalam orang tua seperti yang saya definisikan di atas.

niat hanya membalas mesej, tau-tau ketika saya sadar, saya sedang mengkepo foto orang lain, setengah jam terbuang..

niat hanya melihat timeline, tau-tau ketika saya sadar saya sedang sibuk googling berbagai berita, lima belas menit hilang..

kalau sudah megang henpon, keseringan niat hanyalah niat..

merasa menyesal, saya pun bertekad, jika anak tidur, barulah saya akan berlama-lama facebookan. jika anak-anak tidur, barulah saya akan merambah google dan membaca semua yang ingin saya tahu. jika anak-anak tidur, barulah saya akan tenggelam di dunia maya selama yang saya mau.

Ya terus sounds naif juga kalo ga nyentuh henpon sama sekali ya. maksud saya, its oke untuk bales bbm ketika anak-anak masih bangun-tapi say no untuk ngobrol ngalor-ngidul via bbm ketika sedang family quality time. its oke untuk baca email pendek-tapi no untuk tindak lanjutnya yang harus saat itu juga..

jadi kesimpulannya, menurut batin saya, idealnya begini, pertama :

ketika pasangan saya masih terbangun, saya harus jauh-jauh dari social media kalau enggak mau perhatian saya banyak kesedot kesana.

kedua:

kalau anak-anak bangun, sebisa mungkin juga saya tetap fokus pada mereka. berbagi cerita, membacakan cerita, mengajari angka, mengajari mengaji, mengajari mengenal tuhannya..

karena anak-anak itu amanah Allah

dan terkutuklah orang tua yang sudah seharian sibuk bekerja, ketika di rumah pun anak-anaknya harus kembali kalah bersaing dengan social media!

jangan sampai social media mendekatkan yang jauh
namun menjauhkan yang dekat,

karena suatu hari, ketika kita sadar,

kita tak mau yang terasa hanya sesal.

Movie Review : Gravity — Spoiler Alert

https://i2.wp.com/i.space.com/images/i/000/031/137/i02/gravity-movie-poster-closeup.jpg

Jujur aja, pemicu utama gw kepingin menonton film ini adalah Sandra Bullocknya. I just love Sandra and her acting. Nama George Clooney juga menjadi penarik karena gw berfikir film ini seharusnya bagus karena yang main juga dua nama besar di perfilman Hollywod. Jadi tanpa melihat trailer dan membaca review terlebih dulu, saya dan teman-teman memutuskan untuk nonton Gravity sebagai farewell party sabtu terakhir bagi saya menjalani cuti melahirkan 3 bulan yang terasa seperti 3 hari itu.

Sooooo….Gw  akan menulis berdasarkan poin, dan sebagai peringatan, tulisan ini benar-benar penuh dengan Spoiler. Jadi bagi yang pingin baca review tapi gak mau kena spoiler, monggo go ahead balik kanan grak, karena gw selain mereview juga akan membocorkan sebagian besar ceritanya. Are we deal for this? Good.

So lets start some review points about Gravity.

  1. View pertama di film ini sangat memukau (gw sarankan nonton yang 3D ya) View nya langsung berada di ruang hampa udara tanpa batasan, yak. Di luar angkasa. Bumi terlihat sepertiganya dengan warna yang sangat-sangat-sangat indah. Penonton serasa benar-benar berada di luar angkasa. Menurut gw feelnya dapet.
  2. Film langsung dimulai dengan percakapan tiga orang astronot (yang sedang berada di luar space shuttle nya; satu orang teknisi, satu orang dokter yang sedang mengerjakan sesuatu (SandraBullock) dan satu orang yang muter-muter ga jelas pake jet  (George Clooney) sambil  terus bercerita apapun ke Houston.
  3. Sayangnya, meskipun disuguhi dengan pemandangan luar angkasa dengan tampilan mother earth yang memukau, kita tidak dijelaskan terlebih dahulu tentang keadaan mereka sebelumnya: Sudah berapa hari mereka disana, untuk misi apa, berapa awak yang ada di dalam shuttle, untuk misi apa seorang dokter bisa sampai ke luar angkasa – yang notabene agak aneh, bukankah kalau di luar angkasa hanya mengurusi soal satelit dll? – atau kalaupun memang dia ikut dalam tim sebagai medis, mengapa dia ikut mengutak-atik some equipments – di luar pesawat pula?Hal ini cukup membuat bingung, jadinya diawal-awal, film ini agak membosankan..
  4. Film mulai terasa ‘nendang’ ketika pesawat dihantam rombongan meteor (atau apalah namanya) dan para astronot yang berada di luar pesawat terpental entah kemana.  Sandra Bullock terlempar paling jauh, dengan kondisi oksigen dibawah 10%. Jujur gw mulai frustasi di bagian ini. Berkali-kali gw nyubit lengan temen gw disebelah sambil ngomong : sumpah ini film serem bgt.  Sandra Bullocknya itu loh gimana diaaa?? Dan temen gw dengan kalemnya berkata : tenang mbak, ga bakalan mati lah dia. Kalo dia mati film nya kan abis. -___- Good point. Ini cukup membuat gw tenang.
  5. Here the minuses again. Karena di awal cerita ga diceritain asal muasal dan awal mula mereka disana, penonton tidak merasakan emotional bond antara satu astronot dengan astronot lainnya. sehingga ternyata setelah diketahui bahwa seisi shuttle mati kecuali Sandra Bullock dan George Clooney, penonton tidak merasakan kesedihan. Kecuali jadi tahu ternyata mereka di luar angkasa tidak bertiga melainkan berenam. -__-“. I know, it’s kindda sucks.
  6. And soooo…karena Sandra Bullock dan George Clooneynya tidak mati (obviously), mereka berjuang dengan sekuat tenaga bagaimana caranya agar mereka bisa kembali lagi ke bumi. Dengan kondisi di luar angkasa, tanpa udara dan tarikan gravitasi, shuttle hancur, dan hubungan ke Houston terputus, Usaha Sandra & George untuk kembali ke bumi cukup membuat frustasi penonton dan membuat gw –  untuk pertama kalinya – merasa bersyukur karena gw berada di bumi dan ditarik oleh gravitasi.
  7. Movie goes on with all knick knack unfriendly situation. Mesin pesawat mati. Stasiun luar angkasa kebakaran (yang anehnya ga meledak). Tombol  engine rusak. Engine idup, pesawat nyangkut. Belum lagi ancaman para meteor yang masih wara wiri siap menghantam kapan saja, Aaaggrrrhhh…. mungkin wajar kalau hal ini membuat Sandra Bullock pingin langsung mati aja.
  8. Daaaann .. Setelah hampir satu jam setengah dicekam dengan berbagai kejadian yang bikin frustasi tapi seru, film ini finally berakhir dengan happy ending.

Thanks God =D

Apa film ini ada nilai moralnya? Ada banget.

Yang pasti yang pertama adalah, film ini akan membuat banyak ANAK-ANAK tidak akan ingin menjadi astronot.

Yang Kedua, film ini akan membuat BANYAK ORANG TUA tidak akan mengizinkan anak-anaknya menjadi astronot.

Ketiga, film ini juga akan membuat orang-orang kaya yang sudah membeli tiket liburan ke luar angkasa akan berfikir ulang atau kemungkinan besar membatalkannya. NASA bakal nangis darah.

Muahaahhaa..

Tapi nilai yang paling utama yang gw dapet dalam film ini adalah bahwa di dalam menjalani kehidupan, dengan segala kesulitan dan berbagai cobaan yang menimpa kita, bagaimanapun sulit dan sakitnya, kita harus berjuang sekuat tenaga untuk bisa bangkit lagi karena hidup selalu layak untuk diperjuangkan dan disyukuri, no matter what. (apa gw mulai kedengeran seperti Mario Teguh?) 😛

Maka dengan segala view out of space yang memukau, tampilan 3D yang keren buanget, dan alur cerita yang lumayan, film ini layak mendapat rating 4/5 dari gw. Eh, anak-anak juga oke nonton film ini loh, karena ga ada adegan dewasanya sama sekali!

Oke yaaa.. selamat menonton buat yang mau nonton deh ^___^