MY GOD, TOELANKSINGO IS BACK!

Okay.

If you think that why did I made the cheesy tittle, it’s because I am very very much happy that I can open this historical blog on my desktop, AGAIN.

Previously, me and any other people can’t reach this address for three years because the owner of this blog – which is me – was rather dumb to let this domain – which already named with toelanksingo.com get expired and unrenewable. Because of what? because I forgot to pay the renewal bill!

It doesn’t mean that wordpress had not reminded me about the bill, of course they were. But because three years ago I’m in the middle of my thesis, I had 7-5 job, mother of two, and a professor in procrastination, of course I tossed them away. Phew.

As a person who can’t live without writing something, getting frustrated and broken hearted with this blog, I already made a new blog named Bonadapa, and It’s quite amazing. I love my new blog, but still, as a historical blog, Toelanksingo is un-replaceable with any other blog. Until 5 minutes ago I was thinking how can I get it back, and Alhamdulillah I had clicked the right button!

OMG How I Miss this blog so much!

In the mean time, let me do many things about this blog, and It will be aired soon with a fresh new look.

So, see you around on the next post! 🙂

 

Advertisements

Makan Gajah

Sumpah benerrr, bikin tesis itu bener bener kayag makan gajah.

Apalagi saya, yang sejatinya S1 dari engineering, sekarang ngerjain tesis S2 Finance yang kagak ada nyangkutnya sama sekali dengan skripsi saya dulu.

even secuil.

Jadi iri sama temen-temen yang s1nya dari ekonomi terus bilang

“kayagnya gue bisa nih nerusin skripsi gue, terus tinggal tambahin aja variabelnya dikit terus selesai deh”

errrr

damn -__-

sedangkan saya harus kayag makan gajah, menggaruk garuk tanah, learning from a scratch, mencoba mengerti mulai dari dasar teori, aplikasi statistik sampe berbagai software yang ga segampang facebook ngertiinnya, belum lagi berbagai macam metode penulisan lainnya yang sumpah mati ga pernah saya temuin ketika saya menulis skripsi di teknik.

bukannya skripsi teknik lebih gampang sik, lebih susah malah. cuma yaaa dengan kondisi macam ini, dimana waktu untuk belajar sangat sedikit – bahkan waktu untuk diri sendiri dan hang out dengan teman-teman sudah tidak ada lagi- ketemu makhluk aneh-aneh pas ngerjain tesis itu yang ada jadi bikin stress.

But all was running well actually,buktinya tesis saya sudah hampir selesai, sudah seminar proposal juga dengan sukses, Alhamdulillah dosen sepertinya kasihan ngeliat saya dan mikir mikir kalo mau membantai anak manusia kurus dengan mata cekung karena kurang tidur..

ga sia sia juga karena saya dengan patuhnya udah ngikutin maunya dosen pembimbing yang dengan sukses membuat saya mengganti judul beberapa kali dan salah satunya itu ganti judul ketika saya udah di bab 3.

jadi mohon maaaaaaaf para pembaca, saya akhirnya curcol di blog secara ini udah bulan September, saya udah berkutat dari bulan Februari (oke silakan bilang APAA? kog lama bangett?) dan Dian Sastro udah wisuda itu rasanya pingin tarik tarik rambut sambil teriak ‘gilak, giliran gua kapan ini wisudanyaaaa???’

But hey, saya menguatkan diri aja. It’s like talking to myself  ‘just one step more, nina… semangatlaah’ dan bukan diri saya namanya kalau tidak bisa mengatasi hal-hal sulit, hahah. I was made for it,  but Allah always gave me strength so i am not break down on my knees and crying out loud. Alhamdulillah.

And i know Allah will help me again this time

Like Allah always do with me along the way.,…

 

 

TESIS!

ImageGambar diambil dari sini

Time flies so fast when you postponing something you must do

Which is means…

my thesis!! *jambak Jilbab*

sudah semester terakhir tanpa terasa saya belajar manajemen keuangan di program magister. Bagi anak teknik seperti saya, belajar manajemen sangat menyenangkan, so refreshing, and really broaden my horizon.

Yang tadinya ga tau sama reksadana jadi tau, yang tadinya ga ngeh tentang pasar modal sekarang jadi ngeh, yang tadinya ga familiar sama ROA, ROE dan makhluk-makhluk rasio keuangan lainnya sekarang jadi tau. Cuma ngerasanya.. semakin belajar semakin menyadari kalau diri ini sebenarnya sangatlah bodoh. Sangat malu sama Alloh kalau sombong *elap air mata*

Namun,

Saya ini orangnya cenderung procratinate; suka menunda-nunda, yang- apabila penunda-nunda itu ada gelarnya, maka saya adalah seorang Professornya.

Dengan kesadaran seperti ini, untuk thesis saya sudah antisipasi. Jangan sampai kebiasaan menunda-nunda saya merusak semua mood yang ada. Saya harus semangat memulai penulisan thesis saya, dimulai dengan mencari judul yang pas, ciamik, jurnalnya banyak, dipresentasiinya mudah, dijelaskannya gampang, dan berprospek besar untuk mendapatkan nilai A. hohohoho

Dan saya mulai mengajukan proposal tepat ketika semester terakhir resmi dimulai (awal Februari) Itung-itung ketika akhir perkuliahan habis, maka thesis saya sudah siap untuk sidang. Mata kuliah habis, saya tamat. Indah bukan?

Namun ternyata proses semuanya tidaklah semulus perjalanan Dude Herlino dan Alissa Soebandono ke pelaminan.

Minggu pertama Februari, ketika saya telah menemukan judul yang pas, ciamik, jurnalnya banyak, di presentasiinya mudah, dijelaskannya gampang, dan berprospek besar untuk mendapatkan nilai A, saya langsung membuat proposal dan mengajukan judul tersebut ke Bagian Akademik dengan hati berbunga-bunga.

Tapi apa hendak dikata, saya harus menunggu selama TIGA MINGGU hanya untuk sampai pada kesimpulan bahwa judul saya ditolak! *elap air mata**ambil tissu*

Bukan karena judulnya ga bagus sih; dosen saya beralasan bahwa anak semester kemarin sudah ada yang mengupas tentang topik tersebut dan ia mendapatkan nilai A. *$$##$@##!!!!*

lalu masa-masa setelah itu menjadi lebih sulit.

Saya bolak balik membaca surat kabar dan berbagai jurnal demi mendapatkan ide topik yang cemerlang. Yang sempet kepikir adalah tentang Reksadana ETF, CAPEX, Modal Kerja, sampe ke Undang-undang pertambangan tentang Smelter, tapi setiap saya ajukan ke pembimbing, beliau pasti bilang : kayagnya jangan yang itu deh, Nina..

Saya dengan kalemnya ngomong : oke sip, dont worry Pak, saya cari lagi judul yang lain

Padahal dalam hati ngomongnya jadi : HUWAAA maunya judul tentang apa dong Paaakk? huhuhuhuhu *nangis guling-guling*

Lalu mengenai waktu,…

entah kenapa kalau kita bingung hendak ngapain dan dikejer deadline, waktu terasa berlalu sangat cepat,…

waktu sebulan terasa seminggu..

waktu seminggu terasa sehari..

waktu sehari terasa……sehari lah, wong saya kerja kalo dari pagi sampe sore tuh berasa banget nungguin waktu pulang -__-

tiba-tiba saya sudah di pertengahan bulan Maret

ketika saya kembali mengajukan sebuah topik (dan kayagnya bakal ditolak lagi) dengan kalem pembimbing saya ngomong begini…
‘Nina… kenapa ga kupas tentang masalah syariah saja… karena Ekonomi syariah itu lagi seru-serunya kan sekarang….’

‘……………………………..’

Oh bapak, mengapa tidak dari dahulu saja engkau katakan padaku bila inginnya yang Syariah??????

‘OOO yang syariah ya Pak, oke siap Pak. Nina cari dulu alternatif2nya ya Pak’

‘oke, ajukan kepada saya via sms saja ya, ingat harus berdasarkan jurnal yang ada’

Dan….saya kembali berhunting ria mencari topik yang syariah, dan Alhamdulillah akhirnya ketemu yang menarik.

Dan ketika saya ajukan ke Bapak Dosen Pembimbing (tentu saja) beliau memberikan restunya.

An then..Time flies so fast dan sekarang sudah sampai dipenghujung Maret.

Ga nyangka kalau proses mencari judul, mengajukan judul dan mendapatkan judul aja makan waktu hingga dua bulan!!

Jujur mood sempat hilang, semangat mulai mengendur, otak mulai jenuh (karena kebanyakan baca jurnal yang ditolak itu), tapi kalau ingat target bahwa tahun ini harus lulus, mau ga mau harus bisa membangun semangat lagi.

So bagi yang mau ambil S2, hal-hal berikut bisa jadi pertimbangan:
1. Dari semester satu sudah tau mau ambil topik tentang apa
2. Sembari kuliah buka mata telinga tentang berita-berita yang ada
3. Dari awal kuliah sudah ngumpulin jurnal mengenai topik yang kita minati
4. Bidik dosen pembimbing yang sesuai dengan topik kita (karena ada dosen pembimbing yang memilih mahasiswa berdasarkan judul yang mereka ajukan)
5. Ajukan tepat waktu, jangan ditunda tunda
6. Komitmen. Meskipun sibuk sama kerjaan tapi tetap harus meluangkan waktu yang signifikan dalam sehari untuk ngurusin thesis.
7. Bikin perkembangan kemajuan thesis dari hari ke hari.

Dan sebagai doa untuk diri sendiri, Semoga awal April sudah bisa terus melaju membuat tesis tanpa ada halangan yang berarti.

Can I get Amen for this? 

 

 

Its a H-O-T year!

Image
Picture is taken from here

Ya jelas aja H-O-T , karena tahun ini adalah tahun pemilu.

dan pemilu adalah bagian dari kehidupan politik

dan keadaan politik bisa berpengaruh pada banyak hal. perekonomian, misalnya. (lihat saja IHSG yang naik jauh pasca Jokowi mengumumkan pencalonannya sebagai Presiden, padahal baru mengumumkan sebagai calon lho).

lalu..

ngobrol-ngobrol soal Pemilu, saya tidak terlalu excited untuk memilih calon legislatif, meskipun banyak foto-foto caleg yang cantik dan tampan dengan senyum manis-hasil editan photoshop-beredar di mana-mana.

Jujur, saya bingung harus memilih siapa diantara caleg-caleg tersebut, karena saya tidak kenal (mereka) – sama sekali.

Lalu mengenai calon Presiden.

ada satu nama yang saya simpan dalam hati yang saya pikir dapat menjadi  Presiden yang baik.

 

Beliau merupakan salah satu dari sedikit orang yang memandang jabatan Presiden sebagai amanah, dan bukan ajang untuk memperluas kekuasaan.

Hanya, beliau minim sekali pengalaman di bidang politik kenegaraan.

Dan saya takut jika idealismenya  kalah tergerus oleh ‘pemain lama’ yang sudah lebih dulu karatan dalam dunia perpolitikan di negara ini.

namun yang pasti..

Saya tidak akan memilih calon presiden yang sedang terlibat perseteruan sampai dilaporkan ke Polisi segala (karena kita tidak tahu apakah ia benar bersalah atau tidak) ; atau calon Presiden dengan masa lalu yang kelam ; atau calon presiden yang lebih cakap sebagai penyanyi dangdut ; atau pengusaha yang bermasalah dengan rakyat banyak.

Saya pun cenderung apatis dengan calon presiden yang terlalu cepat berpaling-belum selesai satu jabatan strategis ia pegang, lalu ia mengincar jabatan lainnya yang lebih prospek.

kog kesannya haus kekuasaan banget.

yang pasti..

ketika datang hari pemilihan nanti, saya hanya ingin memilih satu nama yang saya percaya bisa-

dan saya yakin ia dapat bertanggung jawab ketika mengemban amanah.

Pemimpin yang tidak mudah silau dengan godaan kekuasaan maupun harta,

Pemimpin yang lebih memikirkan nasib bangsa ini kedepannya,

saya percaya dari tatapan matanya,

Ia hanya memiliki niatan yang tulus untuk turun tangan, dan membuat negara ini sembuh dari berbagai moral hazard yang mendera.

Semoga.

 

 

 

 

 

 

Diversity in Unity!

Kalimat itu yang gw teriakkan di kelas sementara teman-teman gw sudah mendesak gw untuk setuju saja dengan pendapat mereka; karena apabila  gw dan teman gw yang satu lagi, Sony, tidak setuju dengan pendapat mereka, perkuliahan Professor Sulastri ini tidak akan dimulai.

Gw dan Sony bergeming, kami bahkan tidak ingin berdebat. Gw dan Sony hanya mempertahankan pendapat kami; yang menurut kami benar. Bukannya kami belagu atau keras kepala atau tak ingin kuliah dimulai; kami hanya merasa konyol apabila harus mengikuti pendapat orang lain padahal kami befikir sebaliknya.

Dan begitulah, hingga waktu hampir mepet ke akhir perkuliahan, Gw dan Sony tetap bertahan pada apa yang kami yakini benar; bertolak belakang dengan pendapat 20 teman lainnya di kelas.

————————————

Masalah bermula ketika Prof Sulastri mengajukan Pertanyaan : apakah kalian setuju apabila di dalam kelas kita memiliki Peraturan Baku (Peraturan yang sudah dituliskan oleh pihak Universitas) dan Peraturan Normatif?

Sebagian menjawab setuju, dan sebagian lagi menjawab tidak setuju.

Prof kemudian meminta kami saling mempengaruhi satu sama lain; kelompok yang setuju mempengaruhi yang tidak setuju dan sebaliknya.

gw termasuk kelompok yang setuju.

gw setuju dengan dasar pemikiran bahwa di dalam institusi manapun; baik di universitas ataupun di manapun di dunia ini, peraturan tertulis, hanya membatasi pada apa yang tertulis

padahal kita mengetahui bahwa ketika dimanapun kaki dipijak; disana langit dijunjung. Selalu ada peraturan normatif yang tak pernah tertulis pada peraturan baku.

Misalnya…ketika kita ke jawa lalu kita berbicara dengan nada keras seperti orang Sumatera, mungkin banyak orang tak akan simpatik karena merasa kita terlalu kasar. Maka berbicaralah dengan lebih halus, agar bisa ‘ngimbangin’ gaya berbicara orang Jawa.

Demikian juga jika kita bertemu dengan orang yang lebih tua, mau setinggi apapun pangkat jabatan kita, kita harus tetap menunduk apabila lewat di depan mereka (itu yang orang tua saya ajarkan kepada saya). Karena memang kita wajib menghormati orang yang lebih tua.

kemanapun kita, dimanapun kita, -mau tidak mau-suka tidak suka- kita akan selalu bertemu dengan dua macam peraturan. Peraturan tersebut adalah peraturan baku dan Peraturan Normatif.

Salah satu contoh lagi. Di lingkungan RT, tamu diwajibkan lapor 1×24 jam; itu peraturan baku. Peraturan normatif; anda mungkin tidak diperbolehkan menyalakan suara DVD/MP3 player anda terlalu keras karena dapat mengganggu tetangga sekitar, terlebih mengganggu tetangga yang masih memiliki bayi.

Maka, kemanapun kita pasti bertemu dua peraturan tersebut : yg baku & Yg normatif; Jadi buat apa bilang tidak setuju?

Satu persatu teman-teman yang tadinya satu kubu dengan gw ‘terpengaruh’ dengan pendapat teman-teman di kubu ‘tidak setuju’ .

salah satu teman dari kubu ‘tidak setuju’ bahkan bilang kepada gw

“ayolah Nina, itu tidak prinsip. Ikut saja dengan pendapat kami agar kita bisa cepat belajar’

Memang tidak prinsip…tapi saya tidak akan mengucap kata tidak setuju bila dihati saya setuju. Makanya saya bilang kepada professor, biarlah Diversity in Unity, wong kalo rapat di forum aja 1/4 suara boleh tidak sependapat kog, dalam Islam juga mengatakan bagiku agamaku dan bagimu agamamu?

gw akhirnya menyatakan deadlock.

—————————————

Prof pada akhirnya memulai perkuliahan dengan ‘meminjam’ pendapat kami (gue dan sony) untuk masuk ke kubu yang tidak setuju. Beliau mengatakan beliau sengaja menciptakan konflik agar ia dapat melakukan Personal Mapping dari masing-masing kami

And something went wrong on my Neokorteks. I didnt understand.

Sang Prof bahkan tidak menjelaskan mana yang ia suka: yang menyatakan setuju atau yang menyatakan tidak setuju.

Di akhir perkuliahan, gw tetap tidak mendapat penjelasan mengenai Personal Mapping yg didahului konflik tersebut (atau emang gw nya aja yg bego kali ya?)

Hanya berbagai kesan lalu tertanam di hati gw;

Bahwa seringkali kita sulit untuk mempertahankan apa yang kita anggap benar, terlebih apabila dampaknya kita dikucilkan masyarakat sekitar.

Masih ingat Nelson Mandela dipenjara karena benci dengan Rasisme; sama seperti halnya Marthin Luther King Jr?

Aung san su kyi juga dipenjara karena mempertahankan apa yang ia yakini.

Nabi Muhammad dilempar batu, dicaci maki karena ia juga meyakini Agamanya benar.

Meskipun kasus gw di kelas itu ga ada apa-apanya dibandingkan beliau beliau yg diatas, gw mencoba mengambil benang merahnya:

Jangan ikut ikutan pendapat orang lain bila kita tidak mengerti apa sesungguhnya yg diyakininya.

Jangan bilang setuju padahal anda tidak setuju,

Jangan melakukan hal hal hanya untuk menyenangkan hati orang lain,

Jangan mengubah pendirian hanya karena merasa kita tidak seragam,

Karena bagaimanapun perbedaan itu Rahmat, harus kita hargai bagaimanapun bentuknya, bukan malah menyikapinya dengan naik darah.

Tetaplah Diversity in Unity, Tetaplah ‘memaklumi’ 1/4 suara forum yg tak sependapat, tetaplah bagimu agamamu dan bagiku agamaku, and please still feel good when your stubborness believes what you believe in.

 

Nina’s Shack 2013 in review :)

The WordPress.com stats helper monkeys prepared a 2013 annual report for this blog.

Here’s an excerpt:

The concert hall at the Sydney Opera House holds 2,700 people. This blog was viewed about 15,000 times in 2013. If it were a concert at Sydney Opera House, it would take about 6 sold-out performances for that many people to see it.

Click here to see the complete report.

Kenapa Mem-Bully?

Saya prihatin dengan kasus Amanda Todd, gadis 15 tahun yang mengaku di bully disekolahnya-lalu saking putus asanya, kemudian memutuskan untuk bunuh diri..sebelum melakukan suicide dia mengupload video… bisa dilihat di You Tube.

Serupa dengan adik saya (cewek, SMA) yang mengaku pernah mengalami bully di sekolahnya.. untungnya sih dia pada dasarnya orangnya cuek, jadi meskipun dibully ga sampe mikir ke yang namanya suicide..

Mantan rekan kerja saya juga pernah dibully dengan sesama rekan kerjanya yang lain sampai dia memutuskan keluar dari kantornya yang dulu,..

Serem banget ya dampak dari bully ini?

Jadi penasaran.. sebenarnya bully itu apa sih?

Post saya kali ini panjaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaannnng sekali.. karena saya prihatin dengan maraknya bully akhir-akhir ini, dan pingin membahasnya melalui post ini… 🙂

———————————————————————————————

Menurut Wikipedia… tertulis pengertian bully adalah sbb..

A bully is someone responsible for bullying, a form of aggressive behavior manifested by the use of force or coercion to affect others.

errr… google translate pleaseeee…

Bully adalah perilaku seseorang yang bertanggung jawab untuk bullying, suatu bentuk perilaku agresif dimanifestasikan oleh penggunaan kekerasan atau paksaan untuk mempengaruhi orang lain.

Kalau pernah diospek, nah mungkin itu salah satu bentuk nyata dari Bully.

Namun, Bully waktu di kuliahan tidak pernah dianggap serius, karena kakak senior membully pada saat tertentu saja (satu minggu pertama perkuliahan) and after that semuanya bergembira.. ospek juga punya maksud positif untuk mendekatkan diri antara senior dan juniornya…

Tapi kalau Bully-nya sudah menjadi dampak yang serius seperti yang Amanda Todd, atau teman saya alami, hingga menyebabkan seseorang bunuh diri atau keluar dari pekerjaannya.. maka bisa dibilang Bully sudah menjadi tindakan kriminal dan merugikan.

Lalu mengapa seseorang membully? atas dasar apa? kenapa? bukankah kita semua beragama? (kecuali yang ateis lah ya) dan di semua agama kita diajarkan untuk berkasih sayang dan dilarang menindas seseorang yang (kelihatannya) lemah? lalu mengapa ada yang masih tega untuk membully orang lain???

Dan saya mendapatkan alasannya dalam sebuah artikel di sini,

——————————————————————————————-

Berikut adalah alasan-alasan MENGAPA seseorang membully orang lain :

1. “Aku merasa insecure.”

Jangan dipikir kakak kelas yang super rese atau teman yang suka merendahkan dan membully teman lain, benar-benar kuat dan jagoan. Menurut situs yang membahas psikologi bullying, bully online, si pem-bully justru merasa paranoid dan terancam dengan lingkungannya, dan merasa terancam dengan kamu serta kelebihan yang kamu miliki.

Jadi pertama-tama, yang merasa insecure duluan adalah si pembully tersebut,…Lalu ia melampiaskan perasaan insecurenya kepada orang lain.. kenapa?, karena ketika ia melihat orang yang dibully menderita, ia mendapatkan kepuasan dan perasaan superiornya tumbuh.

Bila ia membully masih secara psikologis (lewat fitnahan atau omongan), kalau kamu tahan untuk cuek, cuekin saja.

Toh yang merasa insecure dia, kamu tenang-tenang saja, tetap berbahagia, dan kalau kamu cuekin saja biasanya si pembully jadi capek sendiri lalu bosan, dan berhenti membully.

 

2. ”Sejujurnya aku merasa agak iri dengan orang yang aku bully.”

Naaahh.. ketahuan..meskipun sering menyangkal, sebenarnya ada perasaan iri atau sirik dalam diri si tukang bully terhadap korbannya.

Karena dia tidak punya kemampuan seperti orang yang dia iri, maka dia membully orang tersebut.

Inget pepatah Tong Kosong Nyaring Bunyinya? Ini sesuai sama kepribadian pembully, karena si pembully ‘kosong ga ada isinya’ makanya dia ingin dianggap oleh lingkungan sekitar dengan cara bersikap agak show off.. suka pamer, ngomong gede-gede biar semua orang denger, suka sok lucu sarkasme, sok pinter, sok bener, sambil mempermalukan orang di muka umum, menyindir di muka umum, menyebarkan isu tidak benar, membuat fitnah, memutarbalikkan fakta, menyebar aib orang yang dibully ke orang-orang sekantor atau teman satu sekolahan, sampe ada yang tahan menggunakan fasilitas telefon kantor untuk menyebar aib!… Padahal….semuanya itu dilakukan untuk menutupi rasa iri- rasa tidak mampu menyaingi-orang yang dia bully.

Jangan seret diri kamu selevel yang sama rendah dengan dia ya. Ingat kalau main fisik baru laporkan ke yang berwenang.

Dan berhubung seharusnya orang yang begini kita kasihani, kamu sih nyengir aja dan nikmati menjadi kamu dengan segala kelebihan kamu yang dia iriin itu. 🙂

Dan jangan lupa untuk terus baik ke dia, karena nantinya dia juga akan malu sendiri terus berhenti membully kamu.

 

3. ”Walau mengaku benci dan nggak suka, tapi aku cukup memperhatikan orang yang aku bully.”

Pem-bully suka mencari-cari kesalahan korbannya, bahkan sampai ke hal yang nggak penting. Misalnya pake baju apa-sepatu apa-mobil apa-Ini merupakan bukti kalau diam-diam mereka memperhatikan korbannya, Dan mencari bahan untuk dijadikan topik bully-annya.

Berhubung si pembully senang kalau kamu bereaksi, mending Diemin aja ya, kalau perlu kasih dia bunga. :p

 

4. Aku bermasalah dengan sekolah.”

Menurut penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal School Psychology Quarterly, siswa yang performance-nya di sekolah kurang bagus, memiliki  potensi lebih besar untuk mem-bully.

Atau seorang karyawan yang kerjanya kurang bagus, ga bisa apa-apa, tapi pandai menjilat dan pingin naek pangkat cepat, juga memiliki potensi besar untuk membully.

Pada dasarnya mereka membully untuk meningkatkan rasa pedenya itu tadi, supaya feeling superiornya tumbuh..

Biarin aja .. anggap anjing menggonggong kafilah berlalu 🙂

 

5. ”Pengalaman di-bully membuat aku ingin balas dendam.”

Biasanya ini tipe yang melestarikan tradisi bullying. Dendam gara-gara pernah di-bully, dilampiaskannya dengan mem-bully juga siswa yang lain. Pernah terjadi di salah satu institusi sekolah yg terkenal di Indonesia, kalau begini rantai ‘budaya’ nya yg harus diberangus.

 

6. ”Sebenarnya, aku cuma ikut-ikutan teman.”

Saya pernah menghadapi sendiri yang seperti ini, ada seseorang yang sebenarnya ga punya masalah sama saya, tapi ikutan mem-bully supaya dianggap solider. Biasanya, di hati kecil, mereka merasa bersalah. Tapi nggak cukup berani, atau mereka punya kepentingan lain sehingga ga cukup kuat untuk menentang temannya yang membully.

Hayoo… mau pilih jadi orang yang baik atau jadi orang jahat?

Kalau kita punya teman yang suka membully teman kita yang lain, nasehati dia untuk tidak membully.

Atau kalau dia masih mau membully juga, berarti dia bukan teman yang baik hatinya. Jauhi saja.

Pembully juga kadang2 perlu sekutu dalam membully. Dan ketika kita jauhi mereka merasa tidak punya sekutu, dan mudah2an akan membuat mereka stop membully.

Yang perlu diingat adalah Jangan ikut-ikutan teman yang suka membully. Bully itu sama saja sebagai bentuk lain dari kejahatan.

Bayangkan ini. Amanda Todd, yang bunuh diri karena di bully, pelaku pembully dan teman-teman-temannya yang ikut membully, secara tidak langsung menjadi pelaku pembunuhan.

Ketika dibully, memang sangat membuat stress dan depresi. Tapi kamu bisa kuatkan hati, ngadu sama tuhan,
Atau pergi curhat ke orang orang yang membuat bikin hati senang, contohnya Ibu, atau adik, kakak yg menyayangi kamu.
Kuatkan diri secara psikologis. Memang tidak enak dipermalukan, atau difitnah, dsb dsb. Tapi tahu tidak? Kalau kamu bisa santai, orang2 bisa respect sama kamu, dan otomatis membenci si pembully tsb.

Bila dibully melalui fitnah, itu tandanya Allah masih sayang dengan memberikan cobaan. Mudah2an dengan sabar, dosa2 bisa dibersihkan, dan pahala bertambah ya? Toh nanti hidup di akhirat lebih lama ya? Think positive saja.

Bila Nabi Muhammad saja pernah dibully, apalagi kita yang hanya manusia?

Namun.. bila bully sudah berdampak secara fisik (sudah memukul, mengancam keselamatan dll) dan membuat kamu depresi, kamu bisa mengadukan saja kepada yang berwenang untuk memberi efek jera. Okeii?

 ———————————————————————————————

Untuk kamu yang membully :

Yang harus kamu maklumi adalah tiap orang memiliki kekurangan dan keterbatasan, namun bukan berarti keterbatasan dan kekurangan orang lain bisa menjadi bahan olok-olokan, atau bahan bully-an.

Tuhan yang menciptakan keterbatasan dan kekurangan dalam diri tiap manusia. Jika kamu mengolok-ngolok/mengejek kekurangan orang lain, itu sama saja dengan kamu mengolok Tuhan.

Coba berkaca pada dirimu sendiri, Apa kamu sudah sempurna? merasa diri sempurna? kamu juga punya kekurangan kan? bagaimana jika kekurangan kamu dijadikan bahan bullyan oleh orang lain? jadi berhentilah membully orang lain hanya karena orang itu menjadi dirinya sendiri.

Kalau kamu ingin mulai membully lagi, coba bayangkan jika pembullyan itu terjadi pada diri kamu. Apakah kamu mau diperlakukan seperti itu? apa kamu mau dipermalukan seperti itu? jika tidak mau, maka stop membully, Orang lain juga punya perasaan, perlakukanlah mereka sebagaimana kamu ingin diperlakukan.

Membully adalah tindakan orang yang Jahat hatinya, karena bisa menikmati kesenangan di atas penderitaan orang lain.

Hati-hati dengan sikap bully karena bisa menyebabkan depresi, rasa rendah diri, tertekan bahkan bunuh diri.

Kamu tidak mau menjadi penyebab seseorang menjadi gila atau bunuh diri kan? karena itu sama saja dengan kamu yang melakukan pembunuhan.

Ok?

Ingatlah bahwa Tidak ada orang hebat yang dibangun dengan cara merendahkan dan menindas orang lain.

Kamu bisa hebat karena menjaga hubungan dengan sesama dan memperluas networking lewat pertemanan dan silaturahim..

Jika kamu seorang pembully, dan membaca ini, jangan malu untuk mengaku kepada diri sendiri, selama kamu mau berubah, tidak pernah ada kata terlambat untuk Stop membully mulai dari sekarang.