Post of This Month : Bayi yang Lahir di Dalam Ka’bah

By the time saya memposting tulisan ini, maka Ramadhan sudah memasuki hari ke 6. Alhamdulillah, masih bisa dipertemukan dengan bulan yang suci penuh barakah tahun ini, meskipun saya tidak bisa melaksanakan ibadah puasa karena keadaan yang tengah mengandung 8 bulan.

Mengapa? Bukankah ibu hamil diperbolehkan berpuasa?

Betul sekali. Saya sudah berniat akan melaksanakan puasa meskipun tengah hamil 8 bulan tahun ini. Namun, informasi medis akhirnya membuat saya mempertimbangkan kembali keputusan saya. Janin saya memiliki berat yang (nyaris) kurang. Maka, karena waktunya sudah dekat (1 bulan lagi menuju hari kelahiran), saya harus ‘mengejar’ berat janin agar dapat lahir dengan range berat normal nantinya.

karena itulah saya lalu memutuskan menunda puasa saya tahun ini; saya yakin Allah memiliki rencana yang baik dengan menggerakkan hati saya untuk beribadah puasa di lain hari nanti 🙂

Okaayy.. enough bubbling bubbler about me (^_^)

Nah, pada suatu hari saya blog walking, saya menemukan tulisan yang bagus ini. sekaligus saya nyatakan bahwa saya menyukai blog ini, karena banyak ilmu tentang Islam yang dapat saya petik. Sangat bermanfaat.

adalah cerita tentang sahabat Nabi Muhammad SAW, Ali Bin Abi Thalib yang sangat saya sukai, dan saya jadikan Post of This Month.

I hope you enjoy reading it like I did (^_^)

———————————————————————————————–

Gambar diambil dari sini

Fathima binti Asad, istri Abu Thalib, dalam keadaan hamil tua datang ke Ka’bah untuk berdoa. Dia memohon agar dapat melahirkan bayinya dengan selamat.

Ketika dia sedang asyik berdoa dekat pintu Ka’bah, tiba-tiba dia terkejut melihat dinding Ka’bah retak dan terbuka lebar. Dinding itu terus terbuka dan semakin melebar sehingga Fathimah binti Asad pun tergerak memasuki Ka’bah melalui celah tersebut. Setelah dia berada di dalam Ka’bah, celah itu pun secara ajaib tertutup kembali sehingga kembali normal seperti semula dan Fathimah tertinggal di dalam Ka’bah.

Sebagian orang yang melihat kejadian tersebut segera menceritakan kepada orang lain apa yang dilihatnya. Orang-orang berdatangan setelah mendengar cerita mereka yang menyaksikan kejadian ajaib tersebut dan ingin melihat keajaiban tersebut. Mereka membawa kunci pintu Ka’bah dan berusaha membukanya. Anehnya lagi, pintu Ka’bah tidak jua dapat dibuka.

Nabi Muhammad Saw yang baru pulang dari sebuah perjalanan, melewati tempat kejadian, di mana banyak orang berkerumun di sekitar Ka’bah. Nabi Saw turun dari untanya dan menghampiri kerumunan orang. Beliau melihat beberapa orang berusaha membuka pintu Ka’bah tapi mengalami kegagalan. Nabi Saw meminta kunci tersebut dan mencoba membukanya. Dengan izin Allah, pintu pun dapat terbuka. Fathimah yang berada di dalam segera keluar dan membawa bayinya yang mungil yang baru saja dilahirkan.

Fathimah binti Asad menyodorkan bayinya ke Nabi, dan Nabi menggendong bayi kecil tersebut. Ketika berada di dalam gendongannya, sang bayi membuka matanya. Matanya yang jernih dan berkilat-kilat itu menatap wajah sang Nabi. Wajah Nabi Saw-lah yang pertama kali dilihatnya ketika pertama-tama dia membuka matanya. Dan bayi inilah yang kelak senantiasa membela Nabi Saw. Ibu sang bayi, Fathimah binti Asad, menamai bayinya Haydar (Singa), sementara Nabi Saw menamai bayi tersebut dengan nama ‘Ali (salah satu dari Asma al-Husna: Yang Maha Tinggi) 1]. Imam Ali bin Abi Thalib adalah satu-satunya orang yang pernah lahir di dalam Ka’bah. Di dalam syair-syairnya, Imam Ali sering menyebut dirinya dengan sebutan putra Ka’bah!

Laa hawla wa laa quwwata illa billah.

Catatan Kaki :
1. Nama ‘Ali yang diberikan Rasulullah Saw ini merupakan fakta sejarah yang meruntuhkan hadis yang sering digunakan kaum Wahabi untuk mewajibkan seseorang menggunakan kata “’Abd” untuk digandengkan dengan nama-nama Allah, seperti Rahman menjadi Abdur Rahman. Jika benar hadis Wahabi itu maka sudah pastilah Nabi akan menggandengkan kata ‘Ali dengan Abdul-‘Ali, tetapi sampai Rasulullah Saw wafat, tidak kita jumpai satu riwayat pun bahwa beliau mengubah nama ‘Ali menjadi Abdul ‘Ali. Dari fakta sejarah ini, kita mendapat pelajaran agar selalu meneliti berbagai hadis yang kita terima, terutama dari kaum Wahabi.

 

 

 

Advertisements

Favorite, Favorite :)

My Favorite Post of this Monthhh!! happy read on people 😉

Because I Couldn’t Sleep, I Decided To Write

The biggest, scariest question in life is..“what do you want to be?”. This question haunts many people, for some even throughout their whole lives, because frankly, it isn’t something easy to answer. What do we want to be? What do we want to do? Why do I need to? It’s a series of never-ending questions…but it’s fun, because it’s the whole point of life.

I personally think that every human has a mission in life. Missions can be anything, from the simplest to the grandest form. And that’s why we were born. To live the mission and succeed, or at least die trying to. Because without one, then what’s the point of time? Time becomes valuable because there’s something to achieve at the end of the day.

I happen to grow up in a family where “what do you want to be?” questions were never asked. I think it’s because my grandpa and my dad both worked in banks, so they expected us to work in banks too. So no point of asking I guess hehehe. As a kid, I accepted that notion. I thought that’s how life works. At that time, I always told my dad that I’m gonna be the next Miranda Goeltom.

Then when I entered university, the thought of having to choose a specific major became confusing. To work in a bank, taking Accounting or Economy would be the wisest choice. But then I realized that I never enjoyed studying accounting and economy in high school. I liked maths. A lot. But the idea to study mathematics for 4 years in university pretty much scared me. So the dilemma started. And I started to question WHY I have to work in a bank. My brother realized my talents in art, because he happened to be the only family member who would actually hang out in my room and notice the things I do or make inside my room. He always appreciated my photographs and photo editing results and convinced me that I should take Graphic Design. He even talked to my dad about this. But dad disagreed, because, well, he wants his children to work in a bank hehehehe. It was a very weird time. I decided to follow my dad’s advice to apply for Industrial Engineering in University of Indonesia. Buuuuuut I also followed my (brother’s) gut-feeling and applied to Pelita Harapan University for Graphic Design. I got accepted in Pelita Harapan University first and soon started my studies. After (only) 4 days attending the classes, I felt guilty to “hurt” my dad & grandpa, and asked the university whether I could transfer to Industrial Engineering instead.Wish granted. After 1 week, it was informed that I got accepted in University of Indonesia for Industrial Engineering. So I transferred again.

So my 4 years of uni life started. It was tough. I felt like I was in the wrong place. I didn’t really enjoy the modules except for Mechanical Drawing. I kept on thinking, “man, I should have just taken Graphic Design”. But I just told myself, that everything happens for a reason. So I just faced it and tried to do my best. With tears too, of course. But I survived hehe. Upon graduation, my friends started applying for jobs & got offers from multinational banks, FMCG, mining and oil & gas companies. They all started working very soon. It was so cool to see them work in their dream companies, but for me, it just didn’t seem to fit me. The only two companies I wanted to work for was McKinsey and Boston Consulting Group. I applied to both companies but none accepted me hehehe. I didn’t know what to do. And then one day, just like that, within seconds, I had the most random thought of studying again. I directly did some research on potential Master programs abroad, and the only one that clicked was the International Business Management MSc. program in Nottingham University. Why did it click? Because their website looked good. Hahah. I’m that weird, I know. Besides, taking Masters in something “design” was not possible because of my undergraduate background. Anyway, I remember it was already July at that time, and the closing date of the enrollment was August. My dad was totally against this idea, because 1) it was expensive, 2) he wanted me to work in a bank (duh!), 3) there’s no chance I could get in because the due date was too soon anyway. The latter was because there were too many documents I needed to prepare in such short time, including the IELTS test. Buuuuut being a strong-willed person I am, I took care of the documents all by myself and took the test just like that. And I did it! Hahah! So I asked dad whether he would give me the permission and of course the financial support. He finally did. Hooraaaaayyyy…

Now the following 1,5 years doing Masters was somehow the BEST studying years of my life. I LOVED it. I was able to finally understand the joy of studying. S was my classmate btw.

But life is funny, because after graduating, I still didn’t know what to do, or which companies to apply to. So I simply followed S and applied to whichever companies he applied to heheheh. Aaaaaaand it gets funnier. We both got accepted in the same company and got jobs as a quantitative market researcher…;p

During those working years, I admire how S really really enjoyed his work. It’s like, he talks about statistics and numbers like how ice cream and chocolates are for me. Like yummy. And I envied that. I wanted to feel as passionate about something. Like, something that makes me feel alive. Like “alive” alive. So I resigned, and moved from one company to another. Friends said I was weird to change jobs so quick like that. But that was all because I kept on feeling that something was missing. Inside me.

You guys wanna know what woke me up eventually? It was because of that Singapore Shopping Race I joined together with Hanzky of Fashionesedaily. I remember, it was in the Muji shop when she was choosing shirts for her husband when I asked, “do you like your job, Hanzky? At Fashionesedaily?”. And she said, “do I like it? I LOVE IT!”.

Wow.

She LOVES her job. I wanna love something that much too.

Within my working years, I have actually done a loooot of contemplation. My heart said that I should go back and give ‘graphic design’ another try. Besides, I have never stopped loving art & designing, and my inner self wanted to explore that side of me. So I guess that’s how my blog grew. My blog was my only creative outlet, letting me express the things I couldn’t do at office. And little did I know, my blog became a huge part of me. Like, my blog became me. An awakening that made me realize that this is what I LOVE: graphic design, taking pictures, fashion, and creating something from nothing. So it came to me that doing online business in the fashion category would be the best thing for me.

I’ve always loved things that are colorful too, because colors make me happy. I figured out that my mission in life is to spread happiness by creating something that brings smiles to other people’s faces. By delivering more colors. By being positive because positivity is contagious. By helping as many people as I can.

And that was the start of everything. Everything of happiness. I resigned from my job, killed my fear of not having a stable income, and started my Up shoe business. Did my family agree at the beginning? NOPE. But I realized that things take time, and convincing my family about what I decided to become was part of maturing as well. If we can’t stand up for ourselves, then we aren’t mature enough. That simple.

The journey to understand what we want to be in life can be very tough and full of challenges. But never give up because eventually it’ll all just come to you. Like a soulmate. And when it does, go for it. Have no regrets. And have faith.. 🙂

Got Lost?

Kalo ada yang bisa komentar isi ini blog pasti akan random sekali ya… hahaha. Secara tema, dan cara gw nulis juga gado-gado…. terkadang tentang android, family, friends, me, whatsoever.

anyway… in the next few months maybe i’m gonna move to another my own personal blog. Tapi blog yg ini maunya tetep. Mau misahin aja gitu… mana tulisan (yang sangat awam) tentang android & teknologi dan mana yg buat cerita gw pribadi…..karena gw aja kadang-kadang baca blog ini bingung.

Lost genre banget ini blog :p

Ngomong-ngomong soal lost, ada satu tulisan dari salah satu blog yang gw suka banget bacanya. Mudah2 an dia ridho ya tulisannya di pajang di sini, secara gw ga minta izin dulu (Maaf ya mbak Meta…) Tapi ini sourcenya. Buat yang Mahmud (Mamah Muda) pasti suka deh baca blognya Mbak Meta.. kenapa? liat aja blognya langsung deh ya.. hehe.

so ini dia tulisan comotan favorite bulan ini!

Passion

Beberapa waktu lalu gw didandanin sama make up artist (MUA) untuk acara kawinan. Her name was Lucy. Dia kliatan masih muda. Err mungkin ada hubungannya dengan fakta ya gwnya aja yang udah makin tua sih, haha.

Namanya juga lagi didandanin buat acara kondangan, lama pun dong. Jadi kita ngobrol-ngobrol. Standarlah, gw suka nanya MUA belajarnya dimana sih? *macem pedekate* trus kenapa dia milih profesi ini, pokonya pertanyaan sekitar itulah.

Yang ngga standar adalah jawabannya Lucy.

Dia bilang dia udah tau dia mau jadi MUA sejak SMA. Jadi dia sebenernya ga pengen kuliah tapi bokapnya (like most parents would say) bilang, “mau makan apa kamu kerja mekap mekapin orang?” jadi akhirnya Lucy pun nurut mau bokapnya untuk kuliah di…gak main main, yaitu kedokteran.

She studied hard, graduated & (this is actually the scene in my head, not what she said, hihi) threw the diploma to her dad and took a make up course to fulfill her passion and started her carrier as an MUA.

Long story short, dia ga pernah make ilmu kedokterannya. Yailah bok, jauh bener juga sih hubungannya. Bokapnya sekarang juga udah bisa nerima karena dia bisa banget ‘makan’ alias ngidupin diri sendiri dengan sangat cukup. *yaiyalah, rate sekali ngedandanin orang aja 500ribu, hihi*

Cerita Lucy ini ngingetin gw dengan salah satu omnya Pandu. He’s a pianist. Dulu waktu SMA juga dimarahin karena main piano. Musti kuliah yang ‘serius’ kata bapaknya. Akhirnya dia masuk ITB, lulus 3,5 tahun. Begitu lulus ijazahnya dikasih ke bapaknya, trus dia ‘ngamen’ main piano buat hidup. Sampe sekarang. Itu ijazah ITB gak pernah dipake samsek!

If you’re a jazz fan, you probably know him. He’s Imam Pras from Imam Pras Quartet.

Hebat ya sama orang-orang yang tau apa passionnya dan yakin untuk ngejalaninnya. Untuk kedua cerita di atas tambah salut karena mereka juga hormat sama orang tuanya. Nurut dan masih mau nyenengin orang tuanya dulu sebelum ngikutin passion.

A bit jealous too…karena rasanya sampe sekarang (carrier-wise) gw belum tau passion gw apa. I once craved for economics and finance…but my hatred to bureaucracy at my previous office kinda scraped that passion. Heck, if it can be scraped away…probably isn’t passion anyway. Dunno. I’m lost.

—————————–

for a certain thoughts gw mikir. Gw sama feel lost nya. Malah semakin bertambah umur gw semakin bingung sama jalan yang mau ditempuh buat diri sendiri..

maka bersyukurlah orang-orang yang seperti Lucy ^__^ ….
weis. that’s a wrap. before gw keterusan curhat. hehe

Surat As Sharh

I used to read this Surat to Settle my heart when life knocks me down 🙂

Surat As Sharh (Quran 94)

Did We not expand for you, [O Muhammad], your breast?

Bukankah Kami telah melapangkan untukmu dadamu?

And We removed from you your burden

dan Kami telah menghilangkan daripadamu bebanmu,

Which had weighed upon your back

yang memberatkan punggungmu[1584]?

[1584]. Yang dimaksud dengan beban di sini ialah kesusahan-kesusahan yang diderita Nabi Muhammad s.a.w. dalam menyampaikan risalah.

And raised high for you your repute

Dan Kami tinggikan bagimu sebutan (nama)mu[1585],

[1585]. Meninggikan nama Nabi Muhammad s.a.w di sini maksudnya ialah meninggikan derajat dan mengikutkan namanya dengan nama Allah dalam kalimat syahadat, menjadikan taat kepada Nabi termasuk taat kepada Allah dan lain-lain.

For indeed, with hardship [will be] ease.

Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan,

Indeed, with hardship [will be] ease.

sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.

So when you have finished [your duties], then stand up [for worship].

Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain[1586],

[1586]. Maksudnya: sebagian ahli tafsir menafsirkan apabila kamu (Muhammad) telah selesai berdakwah maka beribadatlah kepada Allah; apabila kamu telah selesai mengerjakan urusan dunia maka kerjakanlah urusan akhirat, dan ada lagi yang mengatakan: Apabila telah selesai mengerjakan shalat berdoalah.

And to your Lord direct [your] longing.

dan hanya kepada Tuhanmulah hendaknya kamu berharap.

Menurut as-Suyuthi ayat ini (S.94:1-8) turun ketika kaum musyrikim memperolok-olokkan kaum muslimin karena kekafirannya. Dalam suatu riwayat dikemukakan bahwa ketika turun ayat ini (S.94:2-6) Rasululloh SAW. bersabda: “Bergembiralah kalian karena akan datang kemudahan bagi kalian. Kesusahan tidak akan mengalahkan dua kemudahan.”
(Diriwayatkan oleh Ibnu jarir yang bersumber dari al-Hasan.)

 

“Bunda….”

Di suatu Pagi di hari kerja.

Hectic memulai hari seperti biasa.

Mandi, salat subuh, bolak-balik memilih baju yang akan dipakai pagi itu. Beginilah repotnya bila kantor tidak memiliki seragam kerja.

“Bunda…” kata Rafin (3yo)

“Eh,.. Udah bangun Sayang?” saya kaget. Karena satu hari berikutnya Rafin baru bangun jam 8. Sekarang jam enam sudah standby ngikutin saya berhectic ria.

“Bunda… minumlah tehnya Bunda…” Rafin tahu kebiasaan saya tiap pagi sebelum ngantor : minum teh.

“Iya Raf…” ujar saya tanpa menoleh, sambil mondar-mandir mengingat-ingat kalau-kalau ada yang kurang.

“Bunda…. minumlah tehnya…”

“Iya iya…” saya berpindah dari lemari baju yang satu ke lemari baju yang lain.

“Makanlah telornya Bunda…..” telur dadar, sarapan rutin saya tiap pagi.

“Iya Raf….”

Saya beranjak mengambil tas backpack untuk bekerja; Rafin mengekor di belakang.

“Bunda…minumlah tehnya….makanlah telornya….”

“Bunda…..”

“Minumlah tehnya… bun…”

“Bunda…..”

“Bun….”

“Telornya makanlah bun…”

“BUNDAAAAAA….”

Ujar Rafin tanpa henti sambil terus mengekor kemanapun saya pergi.

“Iya-iya Fin… nih ya, bunda makan nih…” akhirnya saya menyerah dan mengalah untuk ke meja makan, meminum teh dan memakan sarapan telur dadar saya.

Melihat begitu, Rafin terlihat puas, berhenti mencereweti saya, dan langsung duduk di karpet depan TV dan mulai sibuk memperhatikan kartun.

Saya menikmati sarapan saya, dan memperhatikan Rafin sambil geleng-geleng kepala.

Rafin…Rafin…

Persis kayag bapaknya!  ^_^

Samuel Mulia-Body Lotion

Anda tau Samuel Mulia? Yg rajin baca kompas Minggu biasanya tau; karena tulisan Parodi nya memang dapat di temui di situ.

Si Samuel ini (seharusnya saya manggilnya Bapak kali ya)

Pak Samuel ini, selalu menulis dengan lugas; terus terang; terkadang terlalu terus terang malah, dan dibumbui dengan kesan yang sarkastis di sana sini.

Saya penggemar? Tidak juga.

Tapi tidak bisa dibohongi bahwa saya pasti mencari kolom beliau ketika membaca Kompas Minggu.

Semacam curiosity untuk membandingkan sudut pandang; sehingga pada akhir tulisan beliau biasanya saya akan menyimpulkan : Oke Pak Sam, saya setuju! Atau Oke Pak Sam, anda nyeleneh! Hehe

Nah, kali ini saya sangat terpikat dengan tulisan Pak Sam dibawah ini. Sampe saya belain copy-paste untuk mengingatkan diri saya sendiri bahwa saya tidaklah sempurna-dan tidak mungkin sempurna untuk memenuhi ekspektasi semua orang, termasuk teman-teman saya.

Mungkin memang saya harus mengikhlaskan diri dan tetap berdiri tegak di atas semua pandangan buruk, judgement seseorang, fitnahan, dan berita-berita yg amat jauh dari fakta-karena dari sana saya jadi tahu bahwa orang-orang yang seperti itu tidak ‘melembabkan’ saya.

Kembali lagi ke Pak Sam, dengan sumringah kali ini saya berkata :

‘Pak, tulisan yang ini buagus! Saya setuju!’ 😀

—————————————————————————————————————————————-
Sedih deh gue, kayaknya bakal kehilangan temen, nih.” Demikian BBM yang saya terima pada saat mendengarkan celoteh klien di sebuah ruang rapat. Kemudian, saya membalas dengan menanyakan, bagaimana itu bisa terjadi. Dan selanjutnya, Anda pasti tahu, kalau saya tenggelam dalam keasyikan mengirim dan menerima pesan itu, dan membuat konsentrasi di ruang rapat yang awalnya seratus persen menjadi setengahnya.

Kulit kering

Soal kehilangan, saya jadi teringat saat ibu dan ayah sedang menghadapi ajal. Saya menuliskan kata ibu sebelum kata ayah karena ibu game over terlebih dahulu. Tetapi, untuk kejadian yang berbeda waktunya itu, benang merahnya sama. Saya berdoa merayu-rayu Tuhan supaya mereka bisa sembuh dan tidak
”pulang ke rumah” terlalu dini. Alhasil, doa dijawab dengan jawaban yang tidak berkenan untuk saya.

Tuhan bisa saja menyembuhkan, tetapi saya harus dinaikkan kelas supaya bisa lebih pandai dengan mengerti arti kehilangan. Karena saya ini terlalu biasa kalau sakit selalu minta sembuh. Kalau sembuh, mulutnya cepat mengatakan, Tuhan itu baik. Saya tak pernah mengatakan, Tuhan itu baik kalau saya tidak
sembuh dan kehilangan.

Kehilangan itu membebaskan saya dari berpikir egois Contohnya begini. Saya ingin orangtua tetap saya miliki, tetapi lupa kalau mereka hidup, itu adalah hidup dengan sesak napas setiap saat, mata yang sudahtak melihat, dan telinga yang susah mendengar, sehingga kami sering kali malah berantem karenanya.Saya ingin mereka ada, tetapi saya tak mau menempatkan sebagai yang sesak napas, budek, dan tak bisa melihat.

Saya punya teman yang memiliki kepribadian sangat negatif.

Awalnya tak masalah, saya sangat menyadari kami ini sama-sama manusia dengan sejuta kelemahan. Tetapi, makin hari, kekuatan aura negatifnya semakin kuat dan sudah mengeringkan saya, dan saya nyaris KO. Kalau dimisalkan kondisi kulit, maka pada awal pertemanan kami, kondisi kulit saya indah karena kelembabannya terjaga. Tetapi, lama-lama menjadi kering dan pecah-pecah seperti tanah gembur yang berubah menjadi kering kerontang. Dan sebelum saya menjadi KO dan benar-benar pecah, saya mengundurkan diri. Pengunduran diri itu menyedihkan, tetapi sekaligus mengembalikan kelembaban kulit saya.

Tiga folder

Melalui peristiwa itu, saya belajar sesuatu bahwa kehilangan teman, orangtua, atau siapa pun itu adalah sebuah perjalanan yang membuat hidup itu lengkap. Kehilangan tak negatif malah menjadi pintu masuknya sebuah pengalaman baru yang mengembalikan kegemburan tanah dari keretakan yang ditimbulkan pihak kedua, ketiga, dan kesejuta. Kehilangan itu bisa mengubah Anda menjadi the better you.

Anda dan saya perlu berteman, artinya menerapkan dengan nyata makna dari manusia adalah makhluk sosial. Tetapi, di dalam perjalanan menjadi makhluk sosial selalu saja ada kerikilnya. Sama saja seperti naik kapal terbang ada saja turbulensinya.

Maka, setelah hidup nyaris lima puluh tahun, saya mengambil langkah-langkah berteman. Ini saran saya saja.

Pertama, dengan menggunakan dada yang lapang saya menerima siapa saja.

Kedua, saya bersosialisasi sehingga paling tidak saya makin tahu teman-teman pada butir satu itu sesungguhnya. Langkah kedua ini membutuhkan waktu cukup panjang untuk mengetahui seberapa besar atau kecilnya kerikil, atau turbulensi, ketika bersama mereka. Ini berguna saat saya melangkah ke step berikutnya.

Ketiga, sebagai langkah terakhir, saya menyeleksi teman-teman yang sejuta banyaknya itu. Seleksi ini berguna agar tanah saya yang gembur tak menjadi kering kerontang. Penyeleksian itu harus dilakukan dengan akal dan nurani.

Nah, menurut pengalaman saya, semakin saya dekat dengan Sang Pencipta, semakin peka saya dibuatnya. Kepekaan itu yang memampukan untuk menempatkan teman-teman pada folder-nya masing-masing.

Saya memiliki tiga folder. Ada folder untuk teman yang akan saya simpan seumur hidup, ada yang hanya untuk dah-nek dah-nek atau cipika-cipiki, dan terakhir folder untuk teman yang harus saya tinggalkan.

Kalau Anda merasa saya memperlakukan folder terakhir sebagai tong sampah, Anda keliru besar. Mereka bukan sampah, mereka hanya membuat saya tidak gembur lagi. Bisa jadi untuk orang lain mereka bak body lotion yang melembabkan. Oleh karenanya, saya tak akan memusuhi, mereka bukan musuh saya.

Kalau mereka kemudian berpikir demikian, itu hak mereka. Maka kalau Anda masuk ke dalam folder yang ketiga, sehingga Anda mengalami peristiwa di mana teman Anda pura-pura tidak melihat kalau berpapasan di mal, saya sarankan sesuatu.

Daripada Anda berasumsi yang tidak-tidak, mengapa Anda tidak berpikir sederhana saja dengan menyodorkan sebuah pertanyaan untuk diri Anda sendiri.

Begini.
Mengapa saya sampai masuk ke folder yang patut ditinggalkan? Daripada Anda kemudian menyebar cerita ke mana-mana bahwa seseorang itu jahatnya setengah mati, padahal yang harus membenahi diri itu adalah diri Anda sendiri.

Maka, cobalah berusaha menjadi body lotion yangmelembabkan kulit kering mulai sekarang. Anda siap? Ready, set, go….

Ateis

Pada suatu sore seorang teman datang jauh-jauh dari luar kota untuk mengajak saya ‘berdebat’ soal ateisme. Selama ini ia membaca tulisan-tulisan saya di buku maupun blog, berkirim e-mail , kemudian akhirnya membuat janji untuk bertemu.

…Dan sore itulah kami bertemu.

“Saya tidak suka berdebat,” sebelum memulai percakapan kami, saya merasa perlu menjelaskan posisi saya.

“Kalau begitu kita akan berdiskusi,” katanya.

Saya mengangguk, setuju.

“Saya seorang ateis, Fahd,” ia memulai percakapan sore itu dengan pernyataan pertamanya, “Bagaimana menurutmu?”

“Saya tidak punya pendapat. Saya tidak merasa perlu berpendapat soal itu.” Jawab saya, singkat.

Ia tampak tidak puas dengan jawaban saya. Ia membetulkan posisi duduknya, ingin lebih rileks.

“Fahd, bukankah Tuhan telah absen dalam banyak persoalan dan penderitaan manusia? Di mana Tuhan saat peperangan? Di mana Tuhan saat kejahatan dan ketidakadilan merajalela? Di mana Tuhan saat kelaparan merenggut nyawa jutaan jiwa?”

“Pertanyaan yang menarik, tetapi saya tidak tahu jawabannya.” Jujur, saya memang tidak tahu bagaimana cara menjawabnya.

“Menurutmu, mengapa manusia masih perlu Tuhan? Tuhan itu tidak ada, Fahd! Buktinya, saya yang tidak percaya Tuhan, tetap masih bisa hidup, bernapas, dan bahagia, kan?”

Saya berpikir sejenak. “Bagi saya, paling tidak, manusia perlu tempat untuk berkeluh kesah. Saya merasa bahagia percaya bahwa Tuhan itu ada… Sehingga ketika saya merasa lemah, putus asa, dan seterusnya, keberadaan Tuhan membantu saya untuk merasa tidak sendirian. Paling tidak, saya tetap bisa mengeluh, atau bahkan menyalahkan Tuhan mengapa Dia tidak adil, mengapa Dia menentukan dan memutuskan sesuatu yang menurut saya salah.”

“Jawabanmu kurang teologis, Fahd! Apa landasan teorinya?”

“Saya tidak bertuhan berdasarkan teori-teori. Konsep bertuhan saya sederhana. Itu tadi: saya memerlukan Objek Agung yang membuat saya merasa kecil agar saya tak menjadi sombong di hadapan manusia yang lain . Saya merasa perlu memiliki Tuhan yang tidak memarahi saya ketika saya kesal padaNya—ketika saya menyalahkan dan menyebutnya tidak adil. Saya merasa beban atau kesedihan saya berkurang ketika ‘ada yang disalahkan’, karena
sifat dasar manusia cenderung melemparkan kesalahan dan kekurangan pada pihak lain, dan Tuhan saya tidak marah kalau kadang-kadang saya menyalahkanNya.”

“Itu sama sekali tidak Islami, Fahd. Katanya kamu Muslim? Dulu saya juga Muslim, saya sudah baca berbagai literatur teologi dalam Islam, jawabanmu sama sekali tidak Islami!”

“Itu dia. Itu sebabnya saya tidak bertuhan dengan teori-teori. Bukankah kamu yang membaca berbagai literatur teologi dalam Islam juga tak berhasil percaya pada Tuhan?”

Teman saya tadi terdiam. Kemudian berusaha ‘menyerang’ saya melalui celah lain.

“Bukankah peryataanmu tadi berarti tidak menghormati Tuhan? Tuhan jadi tempat berkeluh kesah dan menyalahkan?”

“Ah, ya, itu dia yang membuat saya tambah yakin bahwa saya perlu bertuhan: Tuhan saya begitu baik. Bahkan terhadap saya yang sering tidak menghormatiNya, meragukanNya, mempertanyakan keputusanNya, dan menyalahkanNya pun Dia tetap baik dengan memberi saya kebahagiaan kebahagiaan.”

“Tidak masuk akal!” Dia mulai kesal.

“Kalau Tuhan saya masuk di akal saya, berarti Tuhan saya kecil—lebih kecil dari daya muat akal manusia. Bagi saya, Tuhan harus tidak masuk akal.”

Teman saya tampak kecewa sudah jauh-jauh datang untuk berdiskusi dengan saya. Buang-buang waktu saja , mungkin begitu pikirnya. Ia memang menginginkan perbincangan yang lebih ilmiah dan masuk akal—sayang, ia datang di akhir pekan dan saya tidak ingin membicarakan hal-hal yang “ilmiah” dan “masuk akal” di akhir pekan.

“Saya boleh tanya?” Saya berusaha mengembalikan percakapan kami, teman saya sudah lebih banyak diam.

“Tentu.” Katanya.

“Kalau kamu memang tidak percaya Tuhan, mengapa masih perlu berdiskusi dan bahkan mengajak orang lain—yang percaya Tuhan—berdebat soal keberadaan Tuhan?”

“Saya ingin mereka tahu, Tuhan itu tidak ada!”

“Apakah menyenangkan jika semua orang percaya bahwa Tuhan tidak ada?”

Teman saya tidak menjawab.

Saya menambahkan, “Bagi saya, jauh lebih menyenangkan memiliki ‘objek’ yang bisa kita sangka tidak adil atau tidak mengabulkan doa kita daripada tidak memiliki siapa-siapa yang bisa mendengarkan harapan dan keluh kesah kita.”

Teman saya terdiam. Kali ini, ia tidak tampak kecewa lagi.

“Saya tidak percaya kamu benar-benar ateis.” Akhirnya saya mengucapkan kalimat yang sejak tadi ingin saya ucapkan.

“Sungguh, saya ateis, Fahd!” jawabnya.

“Kata Nurcholis Madjid, paling tidak para ateis juga punya sesuatu yang mereka tuhankan: ketidakpercayaan pada tuhan. Saya tidak percaya kamu ateis!”

Saya mengulangi lagi pernyataan saya.

“Sungguh, saya sudah ateis sejak mahasiswa,” sekali lagi ia meyakinkan.

“Saya tidak percaya.”

“Demi Tuhan, saya ateis!”

Nah!

—————————-

Fahd Djibran, As taken from ruangtengah.com