Arti Sukses itu..

Pak Heru adalah seorang mantan petinggi salah satu bank syariah swasta di Palembang.

beliau menjadi pegawai selama beberapa belas tahun, lalu mengubah haluan hidup.

kurang dari lima tahun yang lalu beliau resign dari pekerjaannya, dan memutuskan menjadi pengusaha

“teman-teman banyak yang datang menanyakan dan meminta saya bercerita panjang lebar mengenai keputusan bodoh saya tersebut”

“tapi saya tidak merasa keputusan tersebut bodoh” ujarnya

Sekarang beliau memiliki 14 cabang perusahaan pembiayaan yang tersebar di beberapa kota.

Lalu

Setelah ia merasakan menjadi pegawai,

lalu menjadi seorang pengusaha yang berhasil,

Apakah ia telah merasa sukses?

“Bagi saya, berbeda. Waktu jadi pegawai penghasilan saya memang terbatas; namun saya mendapatkan banyak fasilitas, orang-orang menghormati saya karena adalah seorang petinggi bank, saya diundang di banyak acara..

ketika sekarang jadi pengusaha, saya bebas mengatur waktu saya, tapi tantangan bertambah, hutang bertambah, dan yang pasti tanggung jawab juga bertambah. sekarang saya memiliki karyawan di 14 cabang yang harus saya pikirkan kelangsungan hidupnya.

apakah saya merasa kaya?

tidak juga. uang saya memang banyak, tapi ingat saya juga punya bisnis yang uangnya harus berputar, karyawan yang harus digaji..

apakah saya merasa sukses?

Setelah merasakan keduanya (Pegawai dan Pengusaha) sekarang saya mendefinisikan sukses dengan cara yang berbeda.

Sukses itu ternyata bukanlah kaya; atau banyak harta; karena kaya tidak menjamin hidup anda bahagia..

Sukses juga bukanlah punya perusahaan yang banyak; karena banyak perusahaan yang dibangun dengan susah payah, ketika sang pioneer telah wafat dan generasi kedua tidak tertarik untuk meneruskan perusahaan tersebut, toh akhirnya perusahaan tersebut kita berikan ke orang lain..

Sukses itu menurut saya, adalah seperti Uje.. (Ustadz (alm) Jeffry Al Buchori)

ketika wafat banyak mengantar.. ketika wafat Indonesia turut berkabung.. disana terlihat apakah semasa hidup kita telah memberi manfaat bagi orang banyak ataukah tidak,

dan menurut saya hidup yang sukses adalah seperti hidup Uje, ia telah memberi manfaat bagi banyak orang, sehingga ketika beliau wafat banyak sekali orang yang mengantarkan beliau sebagai bentuk perpisahan dan juga penghargaan..

————————-
Bp. Heru sebagai guest lecturer,
MM Unsri,
Kelas Weekend 34

Jealousy

Dan sebuah acara bedah buku salah satu mantan pejabat mengantarkan saya berkenalan dengan Ibu Imelda (bukan nama sebenarnya).

Waktu itu saya bertugas menjadi MC acara tersebut, sehingga saya  dan atasan saya yang merupakan Person In Charge acara ini perlu bertemu dengan beliau satu hari sebelum acara berlangsung.

Maklum, Ibu Imelda, sang owner perusahaan penerbitan, berkantor di Jakarta sementara event tersebut diadakan di Palembang.

Kami berada di hotel tempat acara akan dilangsungkan, duduk bersama sambil memperhatikan pengaturan ruangan ball room dan berdiskusi mengenai rundown acara besok.

“yah, jadi begitu saja ya… semoga semuanya lancar besok” ujar ibu Imelda setelah menerangkan secara detil acara road show tersebut.

 “maaf ya, kami jadi merepotkan. Tapi senang loh bisa dibantu oleh pihak kantor ibu” lanjutnya kepada atasan saya.

Atasan saya melanjutkan obrolan sementara saya manggut-manggut sambil sesekali mencoret sesuatu di atas kertas rundown acara.

“oh ya. Ini perkenalkan, anak saya, namanya Aris” ujar Ibu Imelda tiba-tiba.

Saya mendongak, melihat seorang pemuda berumur 24 tahun berdiri tegak menjulang menyodorkan tangannya untuk bersalaman kepada atasan saya dan saya.

“Anak Ibu?” ujar saya menanyakan pertanyaan retoris

“Iya, tadi barusan dari kamar (hotel), makanya masih pakai celana pendek (bermuda). Maaf ya” kata Ibu Imelda sedikit malu.

“Aris ini Public Relation perusahaan penerbitan saya” sambungnya lagi

 “Public Relationnya masih kuliah sih mbak, baru semester dua” Aris berkata sambil tersenyum lebar.

“Iya, dibela-belain kuliah lagi S1 buat ngambil PR” Bu Imelda menepuk pundak Aris

“oh, memang sebelumnya sudah S1? Ambil apa?” Tanya saya, mulai tertarik.

“Ambil Akuntansi, mbak. Sekarang malah penasaran sama Public Relation. Tapi gak papa ya kan mbak kalau cowok jadi PR? Kan ga harus cewek ya?”

“Mmm hukumnya mubah kok, bukan haram”

“ Iya juga ya, hahaha”

 

 ——————————————————————————————-

Dan saya mampu tertawa padahal sedang merasa iri sekali!

Sang Ibu Direktur Utama, anaknya bekerja diperusahaannya. Kemanapun sang ibu pergi, anaknya mendampingi. Lah wong anaknya itu PR perusahaan, ya jadi harus setia menemani Direktur Utama kemana-mana, jadi…

Tidak harus menahan rindu dari pagi hingga sore (bahkan terkadang malam)hari,

Tidak harus menghabiskan waktu lebih banyak untuk orang lain daripada anak sendiri,

Tetap bisa berkarya,

Tetap bisa bekerja,

Tetap bisa membantu keluarga,

Tetap bisa mandiri,

Tetap bisa menikmati pekerjaan sepenuh hati.

———————————————————————————

Dan akhirnya acara Road Show Bedah Buku mantan pejabat itu selesai juga. Saya kembali menghampiri Ibu Imelda ketika ruangan ballroom mulai kosong dan hanya menyisakan saya, atasan saya, Ibu Imelda, dan salah seorang pegawai Ibu Imelda.

Aris telah terlebih dahulu pamit ke Bandara untuk menghandle acara road show di kota lainnya.

“Baik Bu, sampai berjumpa lagi” kata saya menyalami Ibu Imelda.

“Ya.. ya Naia, Terima Kasih loh, Alhamdulillah acaranya lancar ya”

“Iya Bu, Alhamdulillah dan terima kasih sama-sama Bu” dan lalu saya ingat rasa iri saya. “Oh iya Bu, tolong doakan saya ya”

“Doa apa?”

“Tolong doakan saya agar suatu hari nanti saya bisa menjadi seperti Ibu”

Ibu Imelda tertegun dengan perkataan saya, lalu tak lama senyumnya merekah kembali.

“Ah, iya Naia… Ibu doain ya,.. Amin..Amin..” ujarnya bersemangat.

“Terima kasih loh bu”

Dan saya pun melepas jabatan tangannya; memendam kembali keinginan untuk menjadi entrepreneur,  yang akan saya aplikasikan…entah kapan.

maybe someday,

Someday, I will manage my own project and enjoy it by my heart.

Amin.