Ateis

Pada suatu sore seorang teman datang jauh-jauh dari luar kota untuk mengajak saya ‘berdebat’ soal ateisme. Selama ini ia membaca tulisan-tulisan saya di buku maupun blog, berkirim e-mail , kemudian akhirnya membuat janji untuk bertemu.

…Dan sore itulah kami bertemu.

“Saya tidak suka berdebat,” sebelum memulai percakapan kami, saya merasa perlu menjelaskan posisi saya.

“Kalau begitu kita akan berdiskusi,” katanya.

Saya mengangguk, setuju.

“Saya seorang ateis, Fahd,” ia memulai percakapan sore itu dengan pernyataan pertamanya, “Bagaimana menurutmu?”

“Saya tidak punya pendapat. Saya tidak merasa perlu berpendapat soal itu.” Jawab saya, singkat.

Ia tampak tidak puas dengan jawaban saya. Ia membetulkan posisi duduknya, ingin lebih rileks.

“Fahd, bukankah Tuhan telah absen dalam banyak persoalan dan penderitaan manusia? Di mana Tuhan saat peperangan? Di mana Tuhan saat kejahatan dan ketidakadilan merajalela? Di mana Tuhan saat kelaparan merenggut nyawa jutaan jiwa?”

“Pertanyaan yang menarik, tetapi saya tidak tahu jawabannya.” Jujur, saya memang tidak tahu bagaimana cara menjawabnya.

“Menurutmu, mengapa manusia masih perlu Tuhan? Tuhan itu tidak ada, Fahd! Buktinya, saya yang tidak percaya Tuhan, tetap masih bisa hidup, bernapas, dan bahagia, kan?”

Saya berpikir sejenak. “Bagi saya, paling tidak, manusia perlu tempat untuk berkeluh kesah. Saya merasa bahagia percaya bahwa Tuhan itu ada… Sehingga ketika saya merasa lemah, putus asa, dan seterusnya, keberadaan Tuhan membantu saya untuk merasa tidak sendirian. Paling tidak, saya tetap bisa mengeluh, atau bahkan menyalahkan Tuhan mengapa Dia tidak adil, mengapa Dia menentukan dan memutuskan sesuatu yang menurut saya salah.”

“Jawabanmu kurang teologis, Fahd! Apa landasan teorinya?”

“Saya tidak bertuhan berdasarkan teori-teori. Konsep bertuhan saya sederhana. Itu tadi: saya memerlukan Objek Agung yang membuat saya merasa kecil agar saya tak menjadi sombong di hadapan manusia yang lain . Saya merasa perlu memiliki Tuhan yang tidak memarahi saya ketika saya kesal padaNya—ketika saya menyalahkan dan menyebutnya tidak adil. Saya merasa beban atau kesedihan saya berkurang ketika ‘ada yang disalahkan’, karena
sifat dasar manusia cenderung melemparkan kesalahan dan kekurangan pada pihak lain, dan Tuhan saya tidak marah kalau kadang-kadang saya menyalahkanNya.”

“Itu sama sekali tidak Islami, Fahd. Katanya kamu Muslim? Dulu saya juga Muslim, saya sudah baca berbagai literatur teologi dalam Islam, jawabanmu sama sekali tidak Islami!”

“Itu dia. Itu sebabnya saya tidak bertuhan dengan teori-teori. Bukankah kamu yang membaca berbagai literatur teologi dalam Islam juga tak berhasil percaya pada Tuhan?”

Teman saya tadi terdiam. Kemudian berusaha ‘menyerang’ saya melalui celah lain.

“Bukankah peryataanmu tadi berarti tidak menghormati Tuhan? Tuhan jadi tempat berkeluh kesah dan menyalahkan?”

“Ah, ya, itu dia yang membuat saya tambah yakin bahwa saya perlu bertuhan: Tuhan saya begitu baik. Bahkan terhadap saya yang sering tidak menghormatiNya, meragukanNya, mempertanyakan keputusanNya, dan menyalahkanNya pun Dia tetap baik dengan memberi saya kebahagiaan kebahagiaan.”

“Tidak masuk akal!” Dia mulai kesal.

“Kalau Tuhan saya masuk di akal saya, berarti Tuhan saya kecil—lebih kecil dari daya muat akal manusia. Bagi saya, Tuhan harus tidak masuk akal.”

Teman saya tampak kecewa sudah jauh-jauh datang untuk berdiskusi dengan saya. Buang-buang waktu saja , mungkin begitu pikirnya. Ia memang menginginkan perbincangan yang lebih ilmiah dan masuk akal—sayang, ia datang di akhir pekan dan saya tidak ingin membicarakan hal-hal yang “ilmiah” dan “masuk akal” di akhir pekan.

“Saya boleh tanya?” Saya berusaha mengembalikan percakapan kami, teman saya sudah lebih banyak diam.

“Tentu.” Katanya.

“Kalau kamu memang tidak percaya Tuhan, mengapa masih perlu berdiskusi dan bahkan mengajak orang lain—yang percaya Tuhan—berdebat soal keberadaan Tuhan?”

“Saya ingin mereka tahu, Tuhan itu tidak ada!”

“Apakah menyenangkan jika semua orang percaya bahwa Tuhan tidak ada?”

Teman saya tidak menjawab.

Saya menambahkan, “Bagi saya, jauh lebih menyenangkan memiliki ‘objek’ yang bisa kita sangka tidak adil atau tidak mengabulkan doa kita daripada tidak memiliki siapa-siapa yang bisa mendengarkan harapan dan keluh kesah kita.”

Teman saya terdiam. Kali ini, ia tidak tampak kecewa lagi.

“Saya tidak percaya kamu benar-benar ateis.” Akhirnya saya mengucapkan kalimat yang sejak tadi ingin saya ucapkan.

“Sungguh, saya ateis, Fahd!” jawabnya.

“Kata Nurcholis Madjid, paling tidak para ateis juga punya sesuatu yang mereka tuhankan: ketidakpercayaan pada tuhan. Saya tidak percaya kamu ateis!”

Saya mengulangi lagi pernyataan saya.

“Sungguh, saya sudah ateis sejak mahasiswa,” sekali lagi ia meyakinkan.

“Saya tidak percaya.”

“Demi Tuhan, saya ateis!”

Nah!

—————————-

Fahd Djibran, As taken from ruangtengah.com