Jepang dan Kultur Kejujuran

Gede Widiade, eksekutif property di DKI Jakarta duduk termenung di sebuah tikungan di kawasan Ginza, Tokyo. Ia baru sadar bahwa uang tunai sebesar 20.000 dollar AS yang biasanya ia simpan di dalam tasnya tak lagi berada di tempatnya.

Bagi eksekutif sekelas dia, uang sebesar itu tidaklah sangat besar, tetapi yang membuat ia pening adalah mengapa ia teledor menyimpan uang. Mengapa tanpa ia sadari uangnya dicopet orang nakal. Peningnya makin menjadi karena uang itu hendak ia gunakan untuk membeli oleh-oleh untuk anak istrinya.

Untunglah tidak lama ia terjebak dalam aroma kelam. Ia berserah penuh kepada Tuhan, kemudian ceria kembali seperti yang menjadi karakternya. Langkahnya ringan, candanya segar, dan pengutaraan pandangannya dalam diskusi dengan sejumlah pemain property lain, cemerlang. Rekan-rekannya pun tidak ikut larut dalam suasana yang muram

Tatkala tiba di kamar hotel tempat ia menginap, Gede terperanjat bukan alang kepalang. Uangnya, yang ia masukkan dalam amplop, tersimpan dalam keadaan sangat rapi di atas meja. Uang itu, yang amplopnya transparan dan tidak di lem, rupanya disusun oleh petugas cleaning service hotel tersebut bersama-sama dengan surat Gede lainnya. Lelaki berkulit gelap ini mengucapkan kalimat-kalimat pujian kepada Tuhan, dan sejurus kemudian ia menyampaikan kekagumannya kepada petugas cleaning service hotel yang demikian jujur. Uangnya tidak hilang sepeserpun. Ia hendak mencari petugas cleaning service itu untuk sekadar memberikan tip, tetapi niat itu ia urungkan sebab ada rule yang dijaga ketat petugas cleaning service tidak boleh diberi tip.

Di tengah kekaguman atas kejujuran petugas hotel tersebut, seorang usahawan bertubuh tambun yang bersama-sama Gede ke Jepang bertutur bahwa kawannya, seorang taikun di Jakarta, juga pernah pening karena sebungkus uang senilai 32.000 dollar AS dan beberapa untai kalung bermata berlian, ketinggalan di taksi yang membawanya shopping di kawasan Shinjuku. Hebatnya, tutur usahawan ini, sopir taksi tersebut kemudian menyadari bahwa penumpangnya ketinggalan sejumlah benda sangat berharga. Sopir itu balik ke kawasan Shinjuku dan menanti di tempat penumpang tersebut turun.

Satu setengah jam kemudian, sang penumpang yang sedang kebingungan kembali ke tempat ia turun dari taksi. Sang sopir langsung menghampiri dan memberikan uang serta perhiasan itu kepada taikun Indonesia ini. Ketika hendak diberi tip atau sebutlah semacam penghargaan atas kejujuran yang luar biasa ini, sopir taksi tersebut menggeleng, kemudian berlalu dengan taksinya.

Cerita tentang kejujuran “orang-orang kecil” Jepang ini hanyalah hal sederhana, dan belum tentu bisa menjadi parameter karakter bangsa Jepang. Akan tetapi karena kejujuran pekerja itu sudah menjadi buah bibir pelbagai kalangan sejagat, maka laiklah aspek ini diutarakan. Tentu saja tidak semua pekerja di Jepang baik dan Jujur. Tentu tidak semuanya seperti malaikat, tetapi jumlah warga yang memilih jalan hitam tidak berarti sama sekali. Hal yang menonjol kini adalah munculnya semacam stereotip bahwa “pekerja dengan gaji kecil” di Jepang tersebut umumnya baik. Kejujuran mereka acap jadi buah percakapan masyarakat dunia dengan penuh ketakjuban.

Pada ujungnya, kejujuran yang menggetarkan sukma itu sungguh memesona. Nama jepang menjadi harum dan warga dunia dengan segala suka cita melancong ke Jepang. Sebagian datang karena ingin merasakan sentuhan kejujuran itu. Ini pulalah, yang dalam ilmu marketing, sebuah perbuatan yang “memarketkan” Jepang tanpa perlu mengeluarkan anggaran besar dan cucuran berliter-liter keringat. Kejujuran membuat nama Jepang wangi, sama harumnya dengan kemampuan bangsa negeri matahari terbit itu dalam teknologi, kultur, ekonomi dan infrastruktur. Aspek-aspek itu jua yang membuat Jepang sangat diperhitungkan dalam aspek integritas, kredibilitas dan reputasi. Kita tidak perlu heran kalau imperium Ini kokoh sebagai Negara dengan kekuatan ekonomi terbesar kedua di dunia setelah Amerika Serikat.

Apa yang dituturkan ihwal Jepang ini bisa menjadi inspirasi sebuah Negara beradab yang menempatkan kejujuran sebagai pilar pembangunan ekonomi dan akhlak. Kita pun melakukannya, banyak warga kita, termasuk “pekerja dengan gaji kecil” yang luar biasa jujurnya. Tetapi kejujuran yang tulus itu tersapu oleh makin seringnya pejabat dibekuk karena korupsi. Moral bisnis tak digenggam erat.

Munculnya banyak lembaga anti korupsi mestinya membuat para pihak jera. Akan tetapi anehnya, makin banyak lembaga anti korupsi, makin banyak pejabat dijebloskan ke penjara, makin banyak pula pejabat yang degil. Mereka tetap korup, tidak hirau pada reputasi dan ancaman hukuman berat.

Marilah kita memupuk kejujuran, sebab kejujuran selalu inspiratif. Kejujuran tak lain adalah pintu menuju kesuksesan yang langgeng. Itulah cermin dari bisnis yang beretika.

(Seperti yang dituliskan oleh Abun Sanda, Kompas Rabu 2 Juni 2010 hal 35)

Advertisements