Bagaimana Menentukan harga jual Produk?

ya ya ya. Selama kurang lebih empat tahun bekerja di Bank, yang saya pikirkan akhir-akhir ini adalah bagaimana caranya membuat USAHA. Mindset saya sih sudah ‘menyeberang’ dari mindset karyawan menjadi mindset usaha, cuma mental saya belum. I dont have that guts yet.

Tapi, saya harap semuanya berangsur berubah. Makanya sekarang saya banyak belajar dan membaca. Dari membaca pengalaman usaha orang lain, mudah-mudahan saya menjadi berani. Yang dibawah ini juga salah satu artikel favorit saya. (apaaaaaa? sudah berfikir sejauh ituuuuu?) iya sodara-sodara. Maka tolonglah saya dengan doa. Supaya saya mulai ‘berani’ memulai usaha sendiri. dan dengan segala hormat, saya ambil tulisan bagus di bawah ini dari blognya mas sasonov. Read on!

MENENTUKAN HARGA JUALĀ PRODUK

Bila Anda mempunyai usaha penjualan, mungkin Anda merasa kesulitan dalam hal menentukan harga jual produk. Mungkin selama ini Anda menjual barang dengan harga yang masih bisa ditawar. Anda tidak berani memberi harga pas/banderol, karena bisa jadi harga pas tersebut bisa terlalu mahal atau pun terlalu murah.

Berikut ini akan saya beri contoh cara menghitung harga pas/banderol yang memperhitungkan modal, biaya operasional, dan keuntungan.

Misal Anda menginginkan keuntungan bersih Rp 10 juta/bulan. Biaya tetap yang harus Anda keluarkan adalah untuk sewa toko sebesar Rp 2 juta, gaji karyawan Rp 2 juta, dan maintenance fee gedung sebesar Rp 1 juta, sehingga total biaya adalah Rp 5 juta. Artinya, keuntungan kotor yang perlu Anda raup dalam waktu 1 bulan adalah sebesar Rp 15 juta.

Setelah itu, Anda perlu mematok target penjualan dalam 1 bulan. Angka ini bisa Anda dapatkan dari rata-rata penjualan selama beberapa bulan terakhir, atau bisa juga memilih angka penjualan paling rendah kalau mau estimasi yang pesimis.

Misalkan saja omset Rp 60 juta/bulan. Dengan omset Rp 60 juta, dan keuntungan kotor yang diharapkan sebesar Rp 15 juta, maka margin yang ditetapkan adalah sebesar 33% dari harga pokok (15 juta/(60 juta-15 juta)). Artinya harga jual Anda adalah harga beli ditambah dengan margin 33%. Misalnya Anda beli pakaian seharga Rp 15 ribu, harga jualnya adalah Rp 20 ribu (15 ribu+33%x15 ribu).

Jadikan angka 33% ini sebagai margin normal yang Anda tetapkan pada semua barang dagangan Anda. Tapi tidak perlu terlalu kaku. Untuk item tertentu, Anda bisa buat pengecualian, bisa lebih besar bisa lebih juga lebih kecil. Misalnya pesaing Anda menjual barang yang sama dengan harga yang lebih murah dari harga normal Anda, tidak masalah untuk menetapkan harga yang setidaknya sama dengan mereka. Begitu juga kalau pesaing ternyata menetapkan harga yang lebih mahal daripada harga normal Anda, Anda bisa naikan harga sampai sedikit di bawah pesaing Anda. Usahakan jangan terlalu jauh di bawah pesaing, karena hal ini dapat menyebabkan persaingan harga yang tidak wajar dan malah merugikan pedagang sendiri.

Begitu juga untukĀ item yang sedang trend, Anda bisa pasang harga di atas patokan normal Anda. Sedangkan item yang sudah lama tidak laku atau penjualannya lambat, bisa juga diberikan harga diskon atau di bawah harga normal agar bisa lebih lancar penjualannya. Selama masih ada margin keuntungan, Anda bisa juga memberikan diskon khusus kepada pelanggan setia Anda, apalagi mereka yang membeli untuk dijual kembali secara eceran.

Advertisements