Ketika si Sulung mempunyai Adik..

6ed8eab95441b70921e24dcfe1e2f27f

Ada kekhawatiran muncul ketika gw mengandung anak kedua. Kekhawatiran tersebut gw rasa wajar dan juga dirasakan oleh semua orang tua yang akan memiliki anak kedua. The biggest issues came when you gonna have the second child is that, how about the oldest one? How’s his reaction about this?

Ketika hamil..

Rafin was 4,5 yo when I pregnant the second child. Gw rasa pada umur segitu Rafin sudah cukup besar untuk mengerti bahwa ada adik di dalam perut bunda. Benar?

Benaaar.. kalau lagi inget.

Kalau lagi ga inget tetap aja nangis2 minta digendong sama bunda atau ngajak main timpa-timpaan ketika bunda sedang tidur-tiduran. Which is that is not okay to do when there’s a tiny baby in mommy’s womb. Jadi gw berusaha memberi penjelasan sebisanya bahwa ‘ada adik di dalam perut bunda’ atau kalau ga mau dibilangin juga paling gw yang menghindar sebisanya.

Dan hal ini terus berjalan selama sembilan bulan, dengan cara yang menyenangkan.

Rafin juga terlihat senang akan punya adik, terkadang juga sering membayangkan ‘Nanti Rafin main apa sama adek ya Bunda? Maen masak-masakan boleh?’ dan gw bilang main apa saja boleh asal tidak membahayakan Rafin dan adik.

‘termasuk main masak-masakan dan boneka-bonekaan?’

Ya, termasuk main masak-masakan dan boneka-bonekaan.
(note : gw termasuk orang tua yang tidak parno kalau laki-laki main permainan anak perempuan dan sebaliknya. I think it’s important for him to know many things in life without limitation from his parents). Beside, many famous chefs in this world is a man; and it doesn’t turns them into a woman.

Ketika adik lahir ke dunia…

Entah mana yang lebih dominan yang bisa gw lihat dari Rafin. Di satu sisi terlihat senang, (sangat senang malah) namun di satu sisi perasaan cemburunya juga mendominasi. Misalnya saja.. Rafin menangis ketika gw menyusui adiknya.. karena ia juga ingin menyusu dari gw…Suatu hal yang tidak dilakukan Rafin sejak ia berumur enam bulan!

Kemudian ketika di rumah sakit ia ingin tidur di samping bunda, padahal bunda habis operasi dan anak kecil tidak diperbolehkan dekat-dekat bunda dulu sampai bunda pulih.

Kemudian ia sibuk mencari perhatian dari semua orang. Mulai dari Abie, nenek, dan semua orang yang datang ke rumah sakit untuk menjenguk. Dan kami sempat kewalahan menjaga Rafin dengan sikapnya yang Over.

Kalau keinginannya ga diturutin dia akan nangis kenceng-kenceng sampai dokter yang menangani gue menyarankan supaya Rafin ‘dirumahkan’ dulu untuk sementara waktu.

Abie malah berinisiatif membelikan mainan yang bagus dan bilang ke Rafin kalau itu kado dari adiknya yang baru lahir, hehe

Sampai disini apakah Rafin redam?

Ngarepnya sih iya…

Namun Ketika sampai di rumah..

malah lebih repot lagi. Rafin selalu ‘gatel’ kalau ngeliat adiknya tidur di dalam box.

Seringkali ketika adik tidur di dalam box di kamar, dia menyelinap masuk.

Terus narik bantal adeknya sampe adeknya tidur ga pake bantal.

Selimut adek? Yaaa… itu juga sering ditarik-tarik sampe adek tidur ga pake selimut di kamar ber AC.

Masuk ke dalam box adek ketika tidur? Itu juga pernah

Dan yang paling mengkhawatirkan, dia pernah menimpa muka adeknya pake bantal sehingga muka adeknya ketutup dan susah bernafas.

Whoaa.. ga salah rasanya kalau gw selalu tidak tenang kalau meninggalkan rafin berdua saja dengan adiknya. Seringkali malah gw sampai harus mengunci pintu kamar ketika gw hendak ke wc, hal ini supaya Rafin ga menyelinap masuk kamar ketika adiknya sedang tidur.

Karena minta perhatian lebih, tingkah Rafin menjadi sangat menjengkelkan dan ini kerap membuat sebal (hampir) semua orang. Gw bilang hampir semua, karena kalau ibu gw sih sabar bgt menghadapi Rafin (pengalaman punya anak 4 itu ngaruh banget ya) haha.

Gw sih pada akhirnya sering bgt marah-marah ke Rafin.
Suatu hari, gw pernah MARAAAHHH BESAARR sama Rafin gara-gara ulahnya yang mengganggu si adik. Dan gw inget Rafin sampai nangis sesunggukan karena gw marahin itu.

Tapi setelah marah, gw kemudian sadar bahwa mungkin disaat-saat seperti inilah titik balik dimana sikap gw – sebagai orang tua – bisa mempengaruhi kepribadian anak untuk seumur hidupnya.

Mungkin disaat-saat seperti inilah gw membentuk kepribadian Rafin untuk seterusnya…apakah Rafin tetap menjadi anak baik dan penurut (karena merasa disayang sama orang tuanya) atau malah jadi anak pembangkang (karena merasa orang tuanya ga sayang sama dia karena dia kalah saingan sama adeknya)

And it clicks me. I shouldn’t fail on this.

Gw berusaha mengubah sikap gw. Rafin hanya cemburu, dan merasa insecure terhadap kehadiran adiknya, jadi gw ga seharusnya marah-marah terus ke dia kan?

Gw lalu berusaha lebih sabar. Kalau Rafin gangguin adeknya, gw lebih memilih menjelaskan daripada memarahi.

Gw juga menyisihkan banyak waktu buat Rafin yang selama ini tersita untuk mengurusi adiknya. Sementara adeknya dipegang sama pengasuh, gw sama Rafin akan membaca buku, cerita tentang kejadian hari itu disekolah, atau main masak-masakan atau main kemah-kemahan bersama.

Gw juga lebih sering mengajak Rafin membayangkan “Nanti kalau Adek digangguin sama orang lain, Rafin marah gak?” dsb dsb, atau berjalan-jalan sore sama adik di dorongan dan Rafin jalan disampingnya, supaya sense of belonging dia dengan adiknya tumbuh dan mengenyahkan anggapan kalau adiknya adalah pesaingnya.

Gw kemudian akan dengan sengaja minta tolong Rafin untuk mengambilkan pampers, atau kebutuhan adek yang lain supaya ia merasa dilibatkan sebagai kakak.

Gw menjadi lebih sering memeluk dia kapan saja.

Gw jadi lebih sering pergi berdua dan sesekali ngemall sama Rafin berdua saja.. hoho

Dan lebih menghormati dia sebagai big brother.

Because He is a Big Brother now.
And I want him grown up not only to be a brave, clever, handsome big brother; but also to be a loving brother who has a good heart.

Alhamdulillah sekarang keadaan sudah jauh jauh lebih baik. Rafin sudah mengerti banget kalau dia sekarang adalah seorang Abang, dan dia mulai terlihat sayang sama adiknya. malah kalau kemana-mana sekarang nanyanya : Adik lagi apa ya Bunda?
terus kalau adiknya nangis dia juga repot nyariin gue atau pengasuhnya, dan yang paling so sweet itu adalah kalau pagi tiap bangun tidur dan dia liat adiknya sudah ga ada di kasur, dia pasti nanya : Adik mana Bunda?

And that’s could make your heart feel warm, even in the coolest winter ever..(^_^)v

Rafin dan Raifa
Rafin dan Raifa
Advertisements

“Bunda….”

Di suatu Pagi di hari kerja.

Hectic memulai hari seperti biasa.

Mandi, salat subuh, bolak-balik memilih baju yang akan dipakai pagi itu. Beginilah repotnya bila kantor tidak memiliki seragam kerja.

“Bunda…” kata Rafin (3yo)

“Eh,.. Udah bangun Sayang?” saya kaget. Karena satu hari berikutnya Rafin baru bangun jam 8. Sekarang jam enam sudah standby ngikutin saya berhectic ria.

“Bunda… minumlah tehnya Bunda…” Rafin tahu kebiasaan saya tiap pagi sebelum ngantor : minum teh.

“Iya Raf…” ujar saya tanpa menoleh, sambil mondar-mandir mengingat-ingat kalau-kalau ada yang kurang.

“Bunda…. minumlah tehnya…”

“Iya iya…” saya berpindah dari lemari baju yang satu ke lemari baju yang lain.

“Makanlah telornya Bunda…..” telur dadar, sarapan rutin saya tiap pagi.

“Iya Raf….”

Saya beranjak mengambil tas backpack untuk bekerja; Rafin mengekor di belakang.

“Bunda…minumlah tehnya….makanlah telornya….”

“Bunda…..”

“Minumlah tehnya… bun…”

“Bunda…..”

“Bun….”

“Telornya makanlah bun…”

“BUNDAAAAAA….”

Ujar Rafin tanpa henti sambil terus mengekor kemanapun saya pergi.

“Iya-iya Fin… nih ya, bunda makan nih…” akhirnya saya menyerah dan mengalah untuk ke meja makan, meminum teh dan memakan sarapan telur dadar saya.

Melihat begitu, Rafin terlihat puas, berhenti mencereweti saya, dan langsung duduk di karpet depan TV dan mulai sibuk memperhatikan kartun.

Saya menikmati sarapan saya, dan memperhatikan Rafin sambil geleng-geleng kepala.

Rafin…Rafin…

Persis kayag bapaknya!  ^_^

21 Maret 2011

Rafin, baru dua tahun ini bunda kenal Rafin.
Anehnya,
Rasa sayang bunda ke Rafin menyamai- bahkan cenderung melebihi-rasa sayang bunda kepada orang orang yang telah bunda kenal seumur hidup bunda!

Selamat umur dua tahun di dunia ya sayang

Banyak doa buat Rafin, tapi biarlah Alloh saja yang dengar 😉

BIGGG HUGGG

—— BundAbi——-